160 Sopir Truk di Nabire Melakukan Aksi Mogok Kerja
Para sopir truk yang sedang mogok kerja dan berbincang dengan perwakilan Perusahaan (foto : jubi)

Sebanyak 160 sopir truk di Nabire melakukan aksi mogok kerja dan meminta tambahan upah. Para sopir truk tersebut adalah karyawan lepas yang dipekerjakan untuk penimbunan Bandar Udara Douw Atarure di Kaladiri, Distrik Wanggar Kabupaten Nabire, Papua.

Mereja bekerja di PT Modern yang merupakan satu di antara tiga sub kontraktor yang mengerjakan Bandara baru itu.

Bedu salah satu sopir truk mengatakan bahwa PT modern memberikan Rp 50.000 dan 2,5 liter per retnya. Dan para supir meminta untuk menaikan menjadi 3 liter solar dan per retnya sebesar Rp 60.000.

Seperti yang ia katakan, permintaan kenaikan upah dan solar lantaran tidak cukup karena hanya 2,5 liter untuk menempuh jarak kurang lebih 5 kilometer. Apalagi upah yang hanya Rp50 ribu per retnya. Sehingga, mereka hanya meminta perusahaan untuk menambah solar 0,5 liter dan Rp10 ribu untuk upahnya.

“Jelas kami rasa rugi, karena jarak dari ambil muatan ke areal bandara jauh,” kata sopir yang mengakuh sudah 3 bulan kerja ini.

Melakukan Mediasi Antara Perusahaan dan Sopir Truk Nabire

Sopir lainnya, Gabriel Motorbongs menambahkan, bahwa aksi mogok akan berlangsung hingga ada kejelasan dari perusahaan. Selain itu, pihaknya telah menginformasikan persoalan ini kepada DPRD Nabire dan meminta melakukan mediasi antara perusahaan dan pekerja (Sopir).

Sebab kata dia, awalnya jarak tempuh hanya 4 kilometer, sedangkan saat ini jauh dan lebih dari enam kilo dengan kondisi jalan yang kurang baik.

“Ini yang kami pikirkan rasa keberatan. Kalau jarak tempuh masih sama dan jalan bagus mungkin tidak ada persoalan,” kata Motorbongs.

Ia mengaku, saat ini dua sub kontrak lainnya tetap bekerja lantaran upah kerjanya bagus. Sehingga, pihaknya tetap melakukan mogok hingga ada penyelesaian dengan DPRD Nabire.

“Kami tetap mogok. Kalau subkon dua yang lain tetap kerja. Bayangkan, muatan 4 baket full dan rata bak, jalan kurang bagus dan jarak. Jadi sementara kami mogok,” ucapnya.

Perwakilan PT Modern, Maxi membenarkan jika para sopir melakukan aksi mogok. Ia mengatakan, pihaknya memang membutuhkan karyawan agar pekerjaan segera tuntas.

Aturan Perusahaan Telah Sesuai

Namun, aturan yang perusahaan keluarkan dinilai telah sesuai dengan uji yang sudah ada sebelumnya dengan mobil perusahaan.

“Benar, itu yang mereka inginkan,” ungkapnya.

Namun jelas Maxi, upah yang ia dapatkan merupakan kesepakatan bersama sejak awal kerja.

Baca Juga : Jalan Panjang Satu Kata dalam Sidang Isbat

Selain itu, pihak perusahaan tidak memanggil para sopir untuk bekerja di perusahaan tersebut, akan tetapi para sopirlah yang datang untuk meminta pekerjaan pada perusahaan.

“Kami hargai mereka tapi jujur tidak panggil kerja, mereka yang datang minta pekerjaan. Dan itu sudah kesepakatan dari awal kerja,” jelasnya.

Sehingga lanjut dia, jika tidak menyanggupi bekerja, dipersilakan untuk berhenti dan perusahaan pun tidak memaksa.

“Upah kami kasih dengan tambahan solar, itu solar harga industri dan semua sudah dipertitungkan,” ungkapnya.