3 Bahaya Terlalu Banyak Makan Nasi
3 Bahaya Terlalu Banyak Makan Nasi

3 Bahaya Terlalu Banyak Makan Nasi – Bagi orang Indonesia, belum makan namanya jika belum mendapat nasi. Segala makanan rasanya kurang lengkap jika belum ada nasi. Bahkan, tak sedikit dari kita yang makan nasi dengan porsi yang lebih banyak dari lauknya.

Hal ini pula berkaitan dengan nasi sebagai makanan pokok orang Indonesia. Meski sempat ada gerakan ‘Sehari Tanpa Nasi’ sepuluh tahun lalu, nampaknya hal ini tidak berhasil. Masyarakat Indonesia sudah sangat bergantung pada nasi.

Ada sebabnya mengapa kita perlu waspada terhadap nasi. Makanan ini memang memiliki sejumlah kebaikan pada tubuh. Mulai dari sumber energi yang baik, hingga kandungan magnesium yang baik untuk tulang dan otot.

Namun, kita perlu waspada terhadap jumlah dan takaran nasi yang kita makan. Terlalu banyak makan nasi justru menimbulkan masalah. Pertama, ternyata nasi tidak kaya nutrisi.

Penelitian dari United States Department of Agriculture, secangkir nasi mengandung 242 kalori, 53 gram karbohidrat, dan 4,39 gram protein. Selain itu, studi tersebut mengatakan bahwa nasi tidak memiliki vitamin C.

Berbeda dengan kentang atau ubi. Kentang, misalnya, meski memiliki kadar karbohidrat yang mirip, tetapi makanan ini lebih kaya nutrisi. Kentang mengandung vitamin B6, C, kalium, protein, omega-3, omega-6, dan zat besi.

Baca juga: Soal Persipura di Piala Menpora, Belum Pasti Ikut

Ubi pun demikian. Makanan ini mengandung serat yang tinggi serta vitamin yang banyak. Seperti vitamin A, B6, dan C.

Kedua, bahaya dari mengonsumsi nasi terlalu banyak. Ada sejumlah efek samping yang mengintai kala mengonsumsi nasi terlalu banyak.

Pertimbangkan Hal Ini Sebelum Banyak Makan Nasi:

1. Peningkatan Berat Badan

Semua makanan akan menambah berat badan jika mengonsumsinya berlebihan. Hal ini semakin parah jika tidak berolahraga dan memiliki aktivitas yang cukup. Namun, ada kekhususan bagi nasi.

Makanan ini mengandung indeks glikemik yang tinggi. Artinya, potensi peningkatan berat badan semakin besar ketimbang makanan lain seperti ubi dan jagung. Kondisi ini semakin parah ketika seseorang jarang melakukan aktivitas fisik.

Baca juga: Konsumsi Vitamin Apa yang Cocok saat Masa Pandemi?

Pun, nasi tak memiliki dampak yang terlalu besar pada aktivitas fisik yang berat. Nasi memang baik sebagai sumber energi. Namun, nasi tidak mengandung protein sebagaimana ubi atau kentang.

2. Cepat Kenyang

Bagi sebagian orang, cepat kenyang adalah hal yang baik. Namun, tidak selamanya cepat kenyang itu baik. Sederhananya, ketika kita cepat kenyang kita tidak sanggup mengonsumsi makanan lain yang memiliki nutrisi lebih.

Nasi sebagaimana penjelasan sebelumnya memiliki nutrisi yang rendah. Oleh karenanya, tubuh memerlukan nutrisi lain yang tidak terkandung dari nasi. Ini yang menyebabkan kita harus membatasi jumlah nasi.

3. Berisiko Menyebabkan Diabetes dan Sindrom Metabolik

Nasi memiliki indeks glikemik yang tinggi. Maksudnya, tubuh membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mengolah gula dalam nasi menjadi energi. Hal ini yang membuat nasi kerap menjadi faktor risiko diabetes.

Tak hanya diabetes, nasi juga dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan lainnya. Yakni, penyakit jantung, sindrom metabollik dan stroke. Terlalu banyak mengonsumsi nasi mampu menyebabkan tekanan darah tinggi, kadar trigliserida tinggi, dan kolesterol.

Seluruh risiko tersebut adalah dampak dari terlalu banyak mengonsumsi nasi. Bukan berarti kita tidak boleh mengonsumsi nasi. Hanya saja kita perlu membatasi jumlahnya serta memahami kandungannya. Dengan demikian, kita bisa menyeimbangkan antara aktivitas fisik dan makanan kita.