3 Cara Setan Menjerumuskan Manusia ke dalam Kesesatan
Ilustrasi Setan

Setan adalah musuh bagi manusia, khususnya umat Islam. Iblis, pemimpin setan, telah bersumpah akan terus mengganggu manusia hingga hari kiamat. Ia akan menjerumuskan sebanyak-banyaknya manusia ke dalam kesesatan.

Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat Al-A’raf ayat 16-17 berfirman,

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ﴿١٦﴾ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

“Iblis menjawab, ‘Karena Engkau telah menghukumku tersesat, maka saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.”

Begitulah sumpah iblis untuk terus mengganggu manusia. Untuk dapat menghindari tipu daya setan, penting bagi kita untuk mengetahui strategi dan cara mereka. Dengan demikian, kita dapat tetap waspada dalam perilaku kita sehari-hari dan godaan setan.

Berikut 3 cara setan mengganggu manusia dan menjermuskan mereka ke dalam kesesatan.

1. Menjerumuskan Melalui Pandangan

Pertama, mata adalah indra manusia yang begitu penting. Setiap hari kita menggunakannya untuk melakukan berbagai aktivitas. Bahkan, lebih dari 90 persen kegiatan kita mengggunakan mata. Oleh karenanya, setan memanfaatkan indra penglihatan sebagai media untuk menyesatkan manusia.

Dalam surat An-Nuur ayat 30 Allah berfirman,

قُلْ‭ ‬لِلْمُؤْمِنِينَ‭ ‬يَغُضُّوا‭ ‬مِنْ‭ ‬أَبْصَارِهِمْ‭ ‬وَيَحْفَظُوا‭ ‬فُرُوجَهُم

”Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya.”

Allah memerintahkan bagi laki-laki yang beriman untuk menjaga pandangan mereka. Tak hanya laki-laki, namun juga perempuan. Dalam ayat berikutnya Allah berfirman,

وَقُلْ‭ ‬لِلْمُؤْمِنَاتِ‭ ‬يَغْضُضْنَ‭ ‬مِنْ‭ ‬أَبْصَارِهِنَّ‭ ‬وَيَحْفَظْنَ‭ ‬فُرُوجَهُن

“Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya.” (QS. An-Nuur: 31)

Ini karena begitu banyak hal yang dapat merusak keimanan kita melalui pandangan. Misalnya, memandang sesuatu yang tidak senonoh seperti aurat lawan jenis. Selanjutnya, memandang lawan jenis terlalu lama yang menimbulkan perasaan dalam hati.

Seluruh hal tersebut dapat menodai keimanan seseorang.

2. Banyak Bicara

Selanjutnya, sebuah hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ‭ ‬كَانَ‭ ‬يُؤْمِنُ‭ ‬بِاللهِ‭ ‬وَاليَوْمِ‭ ‬الآخِرِ‭ ‬فَلْيَقُلْ‭ ‬خَيْراً‭ ‬أَوْ‭ ‬لِيَصْمُتْ،

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, berkatalah yang baik, ataukah diam.” (HR. Bukhari, no. 6018, 6019, 6136, 6475 dan Muslim, no. 47)

Mulut pun merupakan salah satu cara setan untuk menjerumuskan manusia pada kesesatan. Kerap kali manusia tidak dapat mengontrol ucapan mereka. Mulai dari ucapan yang menyakiti, hingga ucapan syirik.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma memberikan contoh perihal kalimat syirik. Misalnya,

‘Demi Allah dan demi hidupmu wahai fulan’, ‘Demi hidupku’ atau ‘Kalau bukan karena anjing kecil orang ini, tentu kita didatangi pencuri-pencuri itu’ atau ‘Kalau bukan karena angsa yang ada di rumah ini tentu datanglah pencuri-pencuri itu’, dan ucapan seseorang kepada kawannya ‘Atas kehendak Allah dan kehendakmu’, juga ucapan seseorang ‘Kalau bukan karena Allah dan karena fulan’.

Baca Juga : RMS Menjadi Jalan Lahirnya Baret Merah (Kopassus)

Kalimat tersebut seakan menyandingan Allah dengan ciptaannya. Terlebih, ucapan ini mampu menyekutukan Allah karena bersumpah dengan nama selain-Nya.

3. Terlalu Banyak Makan

Kemudian, salah satu alasan mengapa puasa merupakan ibadah yang baik karena hal itu menjauhkan kita dari godaan setan. Dari Al-Miqdam bin Ma’dikarib radhiyallahu ‘anhu, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا‭ ‬مَلَأَ‭ ‬آدَمِيٌّ‭ ‬وِعَاءً‭ ‬شَرًّا‭ ‬مِنْ‭ ‬بَطْنٍ‭ ‬بِحَسْبِ‭ ‬ابْنِ‭ ‬آدَمَ‭ ‬أُكُلَاتٌ‭ ‬يُقِمْنَ‭ ‬صُلْبَهُ‭ ‬فَإِنْ‭ ‬كَانَ‭ ‬لَا‭ ‬مَحَالَةَ‭ ‬فَثُلُثٌ‭ ‬لِطَعَامِهِ‭ ‬وَثُلُثٌ‭ ‬لِشَرَابِهِ‭ ‬وَثُلُثٌ‭ ‬لِنَفَسِه

“Tidak ada tempat yang lebih jelek daripada memenuhi perut keturunan Adam. Cukup keturunan Adam mengonsumsi yang dapat menegakkan tulangnya. Kalau memang menjadi suatu keharusan untuk makan, maka sepertiga untuk makannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk nafasnya.” (HR. Ahmad, 4:132; Tirmidzi, no. 2380; Ibnu Majah, no. 3349. Syaikh Syuaib Al-Arnauth mengatakan bahwa perawi hadits ini tsiqqah, terpercaya).

Hadis tersebut menjelaskan bagaimana umat muslim hanya perlu makan secukupnya saja. Apabila makan berlebihan maka hal buruk dapat terjadi. Misalnya menjadi malas, hati menjadi keras, amarah menjadi-jadi dan nafsu tidak terkendali.

Dalam Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan,
“Manfaat dari sedikit makan bagi baiknya hati adalah hati akan semakin lembut, pemahaman semakin mantap, jiwa semakin tenang, hawa nafsu jelek tertahan, dan marah semakin terkendali. Hal ini berbeda dengan kondisi seseorang yang banyak makan.”