Adab Berjalan Bagi Laki-laki Dalam Islam
Adab Berjalan Bagi Laki-laki Dalam Islam

Adab Berjalan Bagi Laki-laki – Islam sebagai agama yang sempurna mengatur segala urusan hamba-nya. Mulai dari hal yang pokok seperti cara beribadah dan kewajiban manusia hingga yang sederhana. Salah satunya adalah adab dalam berjalan.

Islam mengajarkan cara berjalan bagi seorang muslim laki-laki. Sebagaimana hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا مَشَى، مَشَى مَشْيًا مُجْتَمِعًا يُعْرَفُ أَنَّهُ لَيْسَ بِمَشْيِ عَاجِزٍ وَلا كَسْلانَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika berjalan beliau berjalan dengan enerjik, sehingga sangat terlihat bahwa beliau bukan orang yang lemah dan juga bukan orang yang malas” (HR. Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah, dihasankan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 2140).

Dari hadis tersebut, kita dapat belajar bahwa Islam meminta umatnya untuk semangat dan enerjik. Menurut hadis tersebut, seorang muslim harus berjalan penuh semangat. Yakni, tidak terlalu lambat dan juga tidak terlampau cepat.

Dengan berjalan seperti demikian, maka seseorang terlihat lebih berwibawa. Bandingkan dengan orang yang berjalan loyo, lemas, dengan pundak bungkuk. Apalagi, wajahnya tidak tersenyum, sayu dan muram. Bentuk berjalan yang seperti itu membawa kesan buruk bagi orang tersebut.

Jadi, seperti apa cara berjalan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam? Menurut Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau menjelaskan cara Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berjalan,

إذا مشَى تكفَّأ تكفُّؤًا كأنَّما ينحَطُّ من صبَبٍ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika berjalan menghentakkan kakinya seakan-akan ia turun dari tempat yang tinggi” (HR. At-Tirmidzi dalam Asy-Syamail Al-Muhammadiyyah, no.120, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Mukhtashar Asy-Syamail).

Penjelasan tentang Adab Cara Berjalan Nabi

Baca juga: Nikmat Berdagang Online, Jangan Lupa Didaftarkan

Pertama, menurut Ali Al-Qari, cara berjalan Nabi adalah tidak menyeret kakinya. Melainkan langkah kakinya kuat dan tinggi seperti orang yang turun dari tangga atau tempat tinggi.

وَالْمَعْنَى يَمْشِي مَشْيًا قَوِيًّا سَرِيعًا. وَفِي شَرْحِ السُّنَّةِ: الصَّبَبُ الْحُدُورُ، وَهُوَ مَا يَنْحَدِرُ مِنَ الْأَرْضِ يُرِيدُ لَهُ أَنَّهُ كَانَ يَمْشِي مَشْيًا قَوِيًّا يَرْفَعُ رِجْلَيْهِ مِنَ الْأَرْضِ رَفْعًا بَائِنًا لَا كَمَنْ يَمْشِي اخْتِيَالًا وَيُقَارِبُ خُطَاهُ تَنَعُّمًا

“Maknanya, beliau berjalan dengan jalan yang kuat dan cepat. Dalam Syarhus Sunnah, ash-shabab artinya al-hudur, yaitu jalan yang digunakan untuk turun dari suatu tempat. Maksudnya, beliau berjalan dengan jalan yang kuat, dengan benar-benar mengangkat kakinya dari tanah, bukan seperti jalannya orang yang sombong atau seperti orang yang santai-santai” (Mirqatul Mafatih Syarah Misykatul Mashabih, 9/3704).

Kedua, mengutip dari IDN Times, cara berjalan yang tegas dan lurus menggambarkan kepribadiannya. Menurut artikel tersebut, mereka dengan cara berjalan yang tegas, lurus, dan kuat merupakan ciri-ciri seorang pemimpin.

Jadi, cara jalan seseorang pula menggambarkan karakter mereka. Bahkan, dalam kondisi tertentu, cara berjalan menggambarkan kondisi psikologis seseorang. Oleh karenanya, dengan memperbaiki cara berjalan dapat mempengaruhi kondisi mood kita sehari-hari.