Adat Manusia Kerangka: Suku Chimbu, Papua Nugini
Beritapapua.id - Adat Manusia Kerangka: Suku Chimbu, Papua Nugini - Kumparan

Adat Manusia Kerangka: Suku Chimbu, Papua Nugini – Mendengar nama Suku Chimbu, maka yang akan terbayang pada benak adalah sosok manusia mirip tengkorak. Bukan karena tubuhnya kurus, melainkan cat yang menyerupai kerangka manusia. Mereka adalah suku tradisional Papua Nugini yang hidup terpencil.

Layaknya manusia tradisional, Suku Chimbu memiliki adat dan budaya yang menarik. Sebagian besar peneliti sangat tertarik untuk mempelajari tingkah laku masyarakat Papua Nugini ini. Namun, informasi perihal Suku Chimbu tidak banyak.

Pertama, sebabnya adalah tempat tinggal mereka yang sangat terpencil. Menurut laman situs encyclopedia, Suku Chimbu mendiami bagian utara Provinsi Chimbu, Papua Nugini. Mereka menjadi penghuni Gunung Cordillera, antara 1,400 hingga 2,400 di atas permukaan laut.

Hal kedua, mereka jarang bagi mereka untuk berinteraksi dengan pihak luar. Kontak pertama kali Suku Chimbu dengan orang barat adalah tahu 1934. Saat itu, penjelajah Australia Michael Leahy dan James Taylor tanpa sengaja berjumpa dengan Suku Chimbu saat melakukan perjalanan untuk pemetaan.

Hal selanjutnya, wilayah tempat tinggal Suku Chimbu masih rawan konflik suku. Pergolakan antar klan dan suku masih kerap terjadi. Namun, itu dulu, sebelum pemerintah Australia menerapkan solusi diplomatik.

Baca Juga: Alat Musik dari Darah oleh Adat Suku Kamoro Papua

Adat dari Suku Chimbu

Adat Manusia Kerangka: Suku Chimbu, Papua Nugini  
Beritapapua.id – Adat Manusia Kerangka: Suku Chimbu, Papua Nugini – Kaskus

1. Cat Tubuh Tengkorak

Pertama, satu yang paling teringat dalam benak khalayak umum soal Chimbu adalah cat tubuh yang menyerupai tengkorak. Sekilas, hal ini mirip dengan festival kematian orang Meksiko kala warga menghias wajahnya seperti tengkorak.

Namun, Suku Chimbu tidak sedang merayakan kematian layaknya orang-orang Meksiko. Suku Chimbu menghias tubuh mereka mirip seperti kerangka manusia untuk mengintimidasi lawan mereka. Tengkorak merupakan simbol kematian dan kengerian yang mampu membuat orang lain takut.

2. Demokrasi

Kedua, meski banyak yang menyebutnya tradisional dan terasingkan, mereka memahami konsep demokrasi. Mengacu pada artikel dari Tempo, pesta demokrasi di Suku Chimbu sudah ada sejak tahun 1989. Paula Brown, merupakan seorang peneliti yang berjasa dalam mengungkap demokrasi Suku Chimbu.

Suku Chimbu merayakan pesta demokrasi dalam rangka pergantian kepala suku. Acara tersebut menilai kepala suku yang telah memerintah serta calon penggantinya. Adapun penilaiannya berupa kapabilitas kepemimpinan, karisma, dan kemampuan diplomasi. Kini, Suku Chimbu mulai berinteraksi dengan suku lainnya. Melalui acara adat, Sing Sing, mereka saling memperkenalkan budaya mereka dengan klan dan suku lain.