Agar Bisa Kuliah Online, Mahasiswi Papua Tinggalkan Jayapura
beritapapua.id - Grace Edowai mengikuti perkuliahan online dari Jalan Taratara 1 lingkungan 3 Kecamatatan Tomohon Barat, Manado (foto : jubi)

Sudah sebulan terakhir Grace Edowai, perempuan 27 tahun, setiap hari mengikuti kuliah online dari Manado, Sulawesi Utara. Jadwalnya, pagi pukul 9.00-11.00 WITA dan siang pukul 14.00 – 16.00 WITA.

Edowai mahasiswi semester delapan di Sichuan University – Bachelor of Dental Surgery, Tiongkok. Sejak putusnya kabel laut SMPCS ruas Sarmi – Biak pada 30 April 2021 Edowai tidak bisa mengikuti perkuliahan online dari Kota Jayapura karena tidak bisa mengakses internet.

“Gara-gara jaringan internet di Jayapura mati saya akhirnya memutuskan ke Manado,” katanya.

Sebenarnya ia ingin ke lokasi yang lebih dekat seperti Biak, Manokwari, atau Nabire.

“Tapi saya takut di sana juga putus lagi, jadi satu kali langsung ke Manado karena paling dekat,” kata mahasiswa kedokteran gigi tersebut.

Jaringan Internet Terganggu Dari 30 April 2021

Edowai mengetahui jaringan internet terganggu pada 30 April 2021 usai makan malam. Awalnya ia mengira itu hanya gangguan jaringan Wifi Indihome yang dipasang di rumahnya. Ia lalu mencoba mematikan WiFi dan menghidupkan kembali, namun tak kunjung normal.

Baca Juga : Teluk Wondama Papua Barat Alami Lonjakan Kasus COVID-19

“Saya coba kasih nyala kasih hidup, tapi tidak bisa sama sekali. Saya kasih nyala jaringan data juga tidak bisa, coba-coba telepon tidak masuk, padahal cuma di sekitar tetangga saja,” ujarnya.

Edowai kemudian menelepon temannya yang berada di Biak untuk memastikan jaringan internet benar-benar terganggu, tapi temannya menjawab jaringan internet di tempatnya baik-baik saja.

Setelah menunggu hingga 3 Mei 2021 dan jaringan tidak kunjung normal, Edowai mengontak temannya satu kampus di Biak untuk menghubungi teman mereka di Tiongkok. Pesannya, agar menyampaikan kepada dosen bahwa jaringan internet di Kota Jayapura lagi terganggu.

“Dosen bilang tidak apa-apa, tapi saya dikasih waktu satu minggu, kalau bisa dalam satu minggu harus kembali ke kelas. Makanya saya usahkan secepatnya untuk bisa dapat tiket,” ujarnya.

Namun tak mudah mendapatkan tiket pesawat. Pesawat penuh dan yang kosong hanya Garuda Indonesia dengan harga tiket Rp6 juta.

“Mau berangkat bagaimana, jadi pergi cek-cek di Pelni, waktu itu ada kapal Sinabung terakhir sebelum ‘lockdown’. Akhirnya saya urus surat jalan untuk ikut berangkat pakai kapal pada 4 Mei 2021, dengan harga tiket Rp600 ribu berlayar empat hari tiga malam baru sampai di Manado,” katanya.