Air Hujan Mengandung Plastik di Amerika
beritapapua.id - Air Hujan Mengandung Plastik di Amerika - Klik Hijau

Air Hujan Mengandung Plastik di Amerika – Penelitian terbaru yang diunggah di Sciencemag menunjukkan terdapat 11 kawasan perlindungan di Amerika Serikat yang dihujani plastik. Bukan sampah plastik berukuran normal, melainkan mikroplastik atau plastik dalam ukuran yang sangat kecil.

“Mikroplastik telah menyentuh segala sisi permukaan Bumi. Benar-benar mengerikan,” ujar Janice Brahney, peneliti utama dari Utah State University, seperti dikutip dari Vice.

Ia melanjutkan terdapat lebih dari 1.000 metrik ton mikroplastik yang menghujani 11 wilayah tersebut setiap tahunnya. Angka tersebut jika dikonversi ke dalam bentuk botol ukuran normal, sama dengan 120 juta botol plastik.

Air hujan yang mengandung mikroplastik ini terjadi hanya di sebagian wilayah. Menurut penelitian, hujan mikroplastik dihembuskan ke daerah yang masih asri seperti Kutub Utara, Pirena Prancis, dan American West.

Air Hujan Mengandung Plastik di Amerika
beritapapua.id – Air Hujan Mengandung Plastik di Amerika – Tempo

Serat plastik ini berasal dari berbagai media seperti cat, produk kosmetik, pakaian, hingga sisa-sisa pembakaran sampah plastik. Sampah plastik yang sudah dibakar di TPA terurai ke dalam ukuran mikro. Partikel tersebut mencemari atmosfer, tanah dan sistem perairan bumi.

“Kami sangat tidak menyangka plastik yang berubah menjadi partikel-partikel kecil bisa menyebar lewat angin,” jelas Janice.

Belum ada penelitian lebih lanjut soal dampak mikroplastik ini bagi manusia. Salah satu penelitian yang diunggah pada tahun 2019, mikroplastik tersebut dapat mengendap di paru-paru dan menyebabkan penyakit asma atau kanker.

Baca Juga: Pasar Terapung Muara Kuin yang Kini Sepi Pembeli

Mikroplastik Juga Menyerang Indonesia

Dilansir dari Vice, sebuah penelitian mengungkapkan bahwa 83 persen air keran di seluruh dunia mengandung mikroplastik. Partikel ini telah mengontaminasi air laut, perikanan, bahkan garam.

“Penelitian terbaru telah menemukan mikroplastik di seafood, air keran, dan kini di dalam garam,” ucap Mikyoung Kim, juru kampanye di Greenpeace Asia, dikutip dari Vice.

Seung-Kyu Kim, profesor ilmu kelautan di Universitas Incheon, mengatakan bahwa garam yang dijual di kawasan Asia mengandung mikroplastik yang sangat tinggi. Ia menyebutkan bahwa Indonesia merupakan salah satu yang paling tinggi. Ia melanjutkan, bahwa tingginya kandungan mikroplastik dalam garam ini memiliki hubungan dengan penggunaan dan produksi plastik suatu negara.

“Temuan ini menunjukkan bahwa konsumsi mikroplastik melalui produk-produk kelautan sangat berhubungan dengan produksi sampah plastik di daerah tertentu,” papar Seung-Kyu Kim.

Dalam satu tahun, Indonesia mampu memproduksi lebih dari 3 juta ton metrik sampah plastik di mana setenga darinya masuk ke laut. Ini sebabnya Indonesia menjadi salah satu kontributor sampah plastik terbesar di dunia setelah Cina.