Airmood, Band Papua yang Populerkan Reggae pada Era 1980-an
Beritapapua.id - Airmood, Band Papua yang Populerkan Reggae pada Era 1980-an - Suara Papua

Airmood, Band Papua yang Populerkan Reggae pada Era 1980-an – Tak banyak yang menggandrungi musik bergenre Reggae sebelum tahun 1980-an awal. Pada tahun tahun tersebut, yakni 80-an, musik tersebut baru mulai populer. Khususnya Jakarta, Indonesia. Lantas, siapa dalang dari populernya musik reggae?

Mereka adalah Airmood, Abresso dan Delta Lima-lima. Band tersebut merupakan dalang dari populernya reggae. Sejak tahun 1988 hingga 1999, mereka rutin mengumandangkan musik reggae pada acara Reggae Night Ancol. Setiap 3 bulan sekali, mereka meramaikan Ancol dengan lagu-lagu reggae.

Tahukah Anda? Salah satu dari ketiga grup musik yang populerkan musik reggae berasal dari Timur Indonesia, yakni Papua. Airmood, merupakan grup musik reggae yang berasal dari negeri Cenderawasih tersebut.

Grup musik ini berawakkan Ian Ch Gebze yang mengampu posisi melody and lead guitar. Kemudian, ada mendiang Akon Merdy Bonay pada bass, Ian Dicky Mamoribo pada keyboard, mendiang Coca pada drum serta William Rumbewas dan Becheq Muabuay pada vokal.

Awalnya, orang mengenal mereka sebagai grup musik beraliran rock. Pengamat musik dari pada majalah Aktuil, Denny Sabri, menyebut mereka sebagai band beraliran ‘Musik Kansas’. Bagaimana tidak? Vokalis Airmood, Chiq Muabuay dan William Rumbewas cenderung menguasai musik slow rock. Begitu juga dengan Ian Gebze pada melody dan lead guitar.

Sedangkan pada drum, Akon Bonay lebih dekat dengan Black Musik, reggae, jazz and blues. Dan keyboardis Airmood, Ian Dicky Mamoribo cenderung menggeluti musik grup band asal Swedia, Abba.

Lantas, bagaimana kemudian mereka menembus pasar musik Indonesia?

Baca Juga: Pesawat Pengangkut Bahan Makanan Tergelincir Di Paniai

Debut Airmood: Mengudara di TVRI

Airmood, Band Papua yang Populerkan Reggae pada Era 1980-an
Beritapapua.id – Airmood, Band Papua yang Populerkan Reggae pada Era 1980-an – Rasta Papua

Berbekal peralatan seadanya, Airmood uji kemampuan. Pada tahun 1981, band asal Papua ini melakukan uji coba sebagai pengisi acara Aneka Ria musik pada TVRI. Pasalnya, peralatan yang mereka punya bukan milik mereka sendiri. Sebagian alat merupakan hasil meminjam anak-anak muda dari Kompleks Bank Indonesia, Pasar Minggu.

Christ Pattikawa, artis dan musisi senior Indonesia, kala itu menjadi juri mereka. Tak banyak harapan pada sebuah band yang belum terlalu terkenal dengan peralatan musik pinjaman ini. Namun Christ berkata lain.

“Dengan peralatan sederhana dan saya nilai Airmood Band pantas masuk dalam siaran TVRI,” kata Christ Pattikawa waktu itu mengutip dari suarapapua.

Lolos seleksi, Airmood kerap melantunkan lagu dengan gaya Intermezzo. Beberapa lagu yang mereka nyanyikan seperti Ombak Putih, Pasrah, dan Tiket Bis Malam. Kemudian, Airmood pun mulai gencar mengenalkan karya-karya mereka.

Salah satu lagu yang hits kala itu berjudul ‘Masuk Putih Keluar Hitam’. Lirik besutan keyboardist Ari Mood itu nyantol pada telinga masyarakat Indonesia. Khalayak menilai lagu tersebut tak hanya sedap, namun juga liriknya yang membawa kritik sosial. Lirik tersebut antara lain,

Dalam prestasi bikin reputasi

Buat rencana jadinya bencana

Lagu tersebut merupakan lagu dari Volume kedua musik ciptaan Airmood. Mereka memiliki ciri khas pada lagu-lagu mereka, yakni menyematkan lagu bahasa Inggris. Misal, pada Volume pertama ada Unlike Women garapan Beachick Muabuay dan Akon Bonay. Sedangkan dalam Volume kedua ada The Man Come Upon the Town.

Mereka kerap mengisi panggung-panggung Indonesia. Beberapa panggung tersebut adalah  adalah panggung Bandung dan Jakarta. Meski belum pernah manggung di Istora senayan, namun mereka cukup bangga lantaran pernah main dengan artis top. Beberapa dari mereka adalah Godbless dan Ahmad Albar termasuk SAS dari Surabaya.

Geliat Arimood Kobarkan Reggae

Setelah mencetak dua album musik, Airmood lebih fokus pada kolaborasi dengan musisi Papua. Misalnya, grup musik bernama Abresso yang beranggotakan Sandy Betay, Robby Wambrauw dan mendiang Boyce Pattipelohy. Mereka melantunkan musik-musik reggae dan lagu Papua.

Ini merupakan langkah Airmood dalam mengobarkan musik reggae dan lagu Tanah Papua. Tak hanya Abresso, Akon sang bassit mendukung band Rio Grime melakukan aransemen lagu Papua. Selain itu, Ian Gebze membentuk perusahaan yang menyalurkan hasrat reggae khalayak Indoensia.

Ian Gebze membangun Kasuari Enterprise yang kemudian menjadi pelopor dalam merintis Reggae Night Ancol. Sejak 1988 hingga 1999, pecinta musik reggae berkembang pesat. Acara tersebut semakin meriah kala grup musik lainnya ikut bermain. Sebutlah Delta Lima-lima dan Abresso.

Selain itu, ada The Black Company, kolaborasi Abresso dan Airmood, turut memeriahkan Reggae Night Ancol. Kehadiran Kasuari Enterprise dengan acara besutan mereka tentu menuai pujian. Baik dari khalayak Indonesia, atau secara khusus dari masyarakat Papua.

Pasalnya, band Abresso tak hanya membawakan lagu pop. Namun mereka membawa misi budaya dalam mengenalkan Papua. Makna Abresso sendiri, misalnya. Dalam bahasa Arfak, Abresso bermakna ‘salam’. Mereka sukses mewakili seni budaya Papua dalam setiap penampilannya.

Dari segi perkembangan musik reggae, Airmood berhasil menggaet vokalis reggae asal Jamaika. Ia adalah Jimmy Ignatio. Saking akrabnya Airmood dan Jimmy, vokalis reggae asal Jamaika itu sampai menyandang marga Papua. Anak-anak Papua menyebut Jimmy dengan nama Jimmy Radongkir.

Kehadiran Jimmy Radongkir membuat musik reggae semakin berwarna. Bersama musisi Papua lainnya, termasuk Airmood, Jimmy melakukan tur musik se-Jawa. Kini, reggae tak lagi asing.