Akibat Corona, Iklan Lowongan Kerja Turun Drastis
beritapapua.id - Akibat Corona, Iklan Lowongan Kerja Turun Drastis - Tirto

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat iklan lowongan kerja merosot hingga 78 persen selama masa pandemi Corona atau Covid-19. Kepala BPS Kecuk Suhariyanto mengungkapkan servei tersebut dilakukan sebagai pencarian data pekerjaan.

“Jadi dari sisi perusahaan memang kelihatan jumlah lowongan kerja turun,” ungkap Suhariyanto dalam rapat virtual bersama Komisi XI DPR. Menurut Kecuk, data per sektor tersebut dapat menjadi salah satu rujukan pemerintah memetakan sektor terdampak parah Covid-19.

Suhariyanto juga menjelaskan jumlah iklan lowongan kerja pada April 2020 mencapai 2.439 lowongan, merosot hingga 78% jika dibandingkan dengan periode Maret 2020 yang mencapai 11.090 lowongan.

Ia mengungkapkan untuk periode Maret 2020 masih ada 502 perusahaan yang memasang iklan, kemudian pada April 2020 terdapat 235 perusahaan. Ada penurunan 53,18% dalam waktu satu bulan.

Penurunan lowongan kerja paling tajam berasal dari sektor akomodasi makanan dan minuman, perdagangan dan pengolahan. “Jadi pergerakan di sektor ini menjadi kunci penting, mana-mana yang perlu kita intervensi supaya nantinya terjadi recovery yang cepat,” ujar Suhariyanto.

Berkurangnya jumlah lowongan kerja tersebut terkait dengan tekanan pada perusahaan imbas dari Covid-19. Bahkan, banyak pekerja yang terpaksa dirumahkan hingga Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Baca Juga: Kabar Terbaru di Papua Barat Terkait Covid19

Pekerja Yang Terkena PHK Mencapai Jutaan

Sebelumnya, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) mencatat total pekerja yang terkena PHK dan dirumahkan per 20 April 2020 mencapai 2,08 juta pekerja. Lebih dari setengahnya berasal dari sektor formal yang terkena imbas wabah virus corona.

Jumlah Pekerja dari sektor formal korban PHK dan dirumahkan mencapai 1,54 juta orang. Kemudian, khusus di sektor informal jumlahnya sebanyak 538 ribu pekerja. Sementara, jumlah perusahaan yang melakukan PHK dan merumahkan karyawannya tercatat sebanyak 116,37 ribu perusahaan. Angka itu terdiri dari 84 ribu dari perusahaan di sektor formal dan 31 ribu perusahaan di sektor informal.

Suhariyanto menuturkan mengenai data pengangguran, BPS hanya melakukan dua kali dalam setahun, yakni Februari dan Agustus. Menurut dia, data jumlah pengangguran untuk Februari 2020 masih dalam proses pengolahan. Namun demikian, data ini dinilai belum menunjukkan adanya dampak Covid-19 secara keseluruhan.

“Sementara untuk posisi Agustus 2020 secara garis besar pengangguran akan meningkat dan sangat bergantung pada keberhasilan penanganan COvid-19” pungkas Suhariyanto.