Akibat Internet Mati, Proses Belajar Daring di Jayapura Tersendat
beritapapua.id - ilustrasi tidak ada koneksi jaringan (foto : istimewa)

Jaringan internet di Kota Jayapura, Papua terganggu atau mati sejak akhir April 2021. Hal ini membuat aktivitas menggunakan internet ikut terganggu atau tersendat. Salah satunya adalah proses belajar mengajar yang pada kondisi pandemi seperti ini dilakukan secara daring.

Kepala SMK Negeri 2 Jayapura, Papua, Elia Waromi mengatakan sejak jaringan internet mati proses belajar-mengajar secara daring tidak berjalan.

beritapapua.id - Kepala SMK Negeri 2 Jayapura, Elia Waromi di ruang kerjanya (foto : jubi)
beritapapua.id – Kepala SMK Negeri 2 Jayapura, Elia Waromi di ruang kerjanya (foto : jubi)

“Jaringan mati sejak 30 April otomatis kegiatan belajar-mengajar secara daring atau online tidak jalan atau mati juga,” ujarnya.

Waromi mengetahui jaringan internet mati sejak 30 April 2021. Ia langsung mengambil tindakan secepatnya dengan mengadakan rapat manajemen sekolah untuk membuat keputusan terkait proses pembelajaran agar tetap berjalan.

“Kami lagi ada di sekolah karena guru dan pegawai kan masuk, mereka online-nya dari sekolah. Setelah tahu jaringan mati kita rapat manajemen sekolah untuk mempertimbangkan segalah hal menyangkut PBM sehingga sekolah mengambil jalan ini memasukan anak-anak,” ujarnya.

Untuk hasil rapat tersebut ia menyebutkan bahwa pembelajaran akan kembali berlangsung, namun secara tatap muka di sekolah dengan adanya beberapa sesi. Selain itu juga tetap harus mementingan dan menerapkan protokol kesehatan yang begitu ketat.

“Oleh sebab itu kami terpaksa masukan siswa ke sekolah dalam beberapa sesi dengan jumlah terbatas sesuai dengan protokol kesehatan,” ujarnya.

Ia juga mengatakan akibat dari matinya internet tersebut membuat sekolah kewalahan karena mengingat akan ada ujian kenaikan semester. Apalagi dari pengalaman pembelajaran daring selama ini hanya 60 persen siswa yang aktif mengikuti proses belajar-mengajar.

“Akhirnya kami mengambil jalan memasukan siswa ke sekolah dengan dua sesi dengan tingkatan yang berbeda. Jadi seminggu kelas 10 dan seminggu kelas 11,” ujarnya.

Pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka di Sekolah Dibagi Jadi Dua Sesi

Pelaksanaan proses pembelajaran tatap muka ini hanya akan berjalan selama satu bulan. Mengingat ini hanya bentuk upaya agar proses pembelajaran tetap berlangsung selama internet mati. Untuk proses pembelajaran tatap muka tersebut terbagi menjadi dua sesi yaitu sesi pagi dan sesi siang. Dan untuk lamanya sesi sekitar 30 menit. Untuk setiap kelas akan terisi oleh 10 sampai 12 siswa saja.

Kelas 10 sesi 1 mulai pukul 7.30 WIT hingga pukul 12.00 WIT. Kemudian sesi siang pukul 12.30 sampai 16.00 WIT.

Baca Juga : Kembali Beroperasi, Pelni Jual Tiket Penumpang Namun Hanya 50 Persen

“Untuk sementara bergantian, tapi dua sesi selama satu bulan ini tergantung jaringan internet,” ujarnya.

Ia menuturkan bahwa pihak sekolah berusaha tetap memberikan pelayanan terbaik agar tidak merugikan para siswa walaupun dengan kondisi internet mati seperti. Oleh karena itu peranan dan dukungan orang tua siswa juga sangat penting dalam kondisi saat ini.

“Kami sebetulnya sangat mengaharapkan orangt tua murid untuk bisa dengan pasti dan mendukung kehadiran siswa di sekolah. Jadi siswa juga jangan manfaatkan waktu-waktu ini lebih santai, tapi dipakai sebaik mungkin yang tidak merugikan mereka sehingga kita sama-sama mendukung dan menyadari apa yang terjadi,” katanya.

Waromi berharap Telkom dapat segera memperbaiki jaringan internet sehingga proses belajar-mengajar bisa embali normal. Ia juga berharap pemerintah melakukan antisipasi jika jaringan internet kembali mati.