Akibat Menyebarkan Berita Bohong Tentang Corona
beritapapua.id - Akibat Menyebarkan Berita Bohong Tentang Corona

Johny G. Plate selaku Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mengungkapkan setidaknya Kominfo mendapatkan 54 hoaks atau berita bohong terkait informasi penyebaraan virus corona. Kabar bohong itu paling banyak tersebar melalui media sosial dan yang paling banyak terjadi di WhatApps.

Menteri Kominfo mengungkapkan, pihaknya telah melakukan pemblokiran konten terkait virus corona. Selama dua pekan terakhir Menteri Kominfo di Indonesia terpantau meningkat. Karenannya Kementrian kominfo (Kemenkominfo) proaktif melakukan pemblokiran penyebaran hoaks dan disinformasi terkait virus corona ini.

Saat ini ada penambahan hoaks yang tadinya tercatat 36 berita bohong telah menjadi 54 hoaks. Beberapa hoaks yang didapat oleh mesin AIS milik Kementrian kominfo antara lain buku ngaji Iqro sudah lama memprediksi terjadinya virus corona, pasien di Jombang yang terkena  virus corona, dan dua penumpang Lion Air meninggal karena virus corona.

Perusahaan solusi keamanan siber Kaspersku dalam laporannya menemukan temuan file berbahaya yang menyamar sebagai dokumen mengenai virus corona dalam penyebaran virus corona, oleh karenanya Kominfo menghimbau untuk hati-hati membuka informasi mengenai virus corona yang didalamnya dilampirkan sebuah link atau tautan mengenai dokumen yang bisa saja disusupi oleh malware.

Selain melakukan pemblokiran konten hoaks virus corona, Kominfo juga berencana melakukan upaya penindakan hukum untuk mencegah semakin beredarnya hoaks. Menteri Johny mengingatkan kembali kepada waranet untuk cermat dalam menyebarkan informasi yang diterima.

Baca Juga: P2TIM Wajah Baru Teluk Bintuni Sebagai Kawasan Industri

Jalur Hukum Bagi Mereka yang Menyebarkan Berita Bohong

Hoaks merupakan hal yang dilarang  berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) hal itu sesuai Pasal 28 yang berbunyi :

Setiap orang dengan sengaja, dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi Elektronik

Perlu diketahui yang dimaksud transaksi elektronik adalah perbuatan hukum yang dilakukan dengan menggunakan komputer, jaringan komputer, dan/atau media elektronik lainnya. Sehingga apapun bentuknya mem-forward informasi juga termasuk kedalam transaksi elektronik. Bagi mereka yang memang sengaja menyebar luaskan hoaks yang beredar dimasyarakat maka sesuai dengan, maka akan ditindak lanjuti melalui jalur hukum. Pasal yang dikenakan untuk penyebaran berita Bohong adalah pasal 45A UU No 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas UU No. 11 Tahun 2008 tentang ITE adalah pasal 45A yang berbunyi :

Setiap orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam transaksi elektronik sebagaimana dimaksud Pasal 28 Ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah)”.

Untuk itu jangan sampai kita bisa terjerat pasal tersebut dan mari untuk lebih teliti dalam menyebarkan informasi. Karena menyebarkan informasi tanpa disaring terlebih dahulu kebenarannya dapat menimbulkan keresahan bahkan stigma terhadap sesuatu.