Aksi Nekat Perampokan Di Depok Memakai Senjata Api
beritapapua.id - Aksi Nekat Perampokan Di Depok Memakai Senjata Api - Tribun

Peristiwa perampokan terjadi di pertigaan Bojongsari di Jalan Raya Muchtar Kota Depok, Jawa Barat. Dari rekaman CCTV saat mobil korban menepi di pertigaan Bojongsari, empat pelaku dengan menggunakan dua sepeda motor sedang berusaha mengatur strategi hingga melakukan aksi nekat perampokan di siang hari dengan menggunakan senjata api.

Awalnya, korban yakni Ida Rosida bersama sopirnya Lilo, mengambil uang di Bank Mandiri sekitar pukul 10.00 WIB. Tidak lama kemudian, mobil di hampiri dua perampok yang berusaha mengambil tas milik korban.

Dengan cara memecahkan kaca mobil perampok berhasil mengambil tas di dalam mobil, yang sedang parkir di pinggir jalan. Tetapi masih bisa digagalkan oleh sopir korban yang melawan dan berhasil mengejar seorang perampok yang membawa lari tas berisi uang Rp 80 juta. Walau akhirnya para pelaku tetap berhasil kabur.

Baca Juga: Catatan 12 Mei 1998, Trisakti dan Merahnya Langit Jakarta

Tingkat Kejahatan Meningkat Setelah Banyak Napi Yang Di Bebaskan

Kementerian Hukum dan HAM membebaskan narapidana untuk mencegah penularan COVID-19 di penjara-penjara yang kelebihan penghuni. Hingga Senin (20/04/20), sudah ada 38.822 orang yang dibebaskan.

emenkumham menerapkan asimilasi dan pembebasan bersyarat sesuai dengan aturan Permenkumham Nomor 10 Tahun 2020 dan Keputusan Menkum HAM nomor 19.PK.01.04 Tahun 2020.

Perlu diketahui, napi yang dibebaskan terdiri atas narapidana umum dan napi anak dari 525 UPT lapas di seluruh Indonesia. Sementara napi koruptor, napi narkotika, dan napi terorisme tidak termasuk.

Menkumham Yasonna Laoly mencatat setidaknya ada 10 eks napi yang mendapat program asimilasi dan integrasi berulah kembali. Perkaranya antara lain pencurian, mabuk dan melakukan kekerasan, serta narkoba.

Menurut Direktur Eksekutif Institute for Criminal Justice Reform (ICJR) Erasmus Napitupulu pelepasan napi di masa pandemi, punya tujuan kemanusian. Selain mencegah meluasnya infeksi Covid-19 di dalam penjara. Pun mengingat kapasitas penjara di Indonesia sudah melebihi kapasitas.

Ia memaklumi kecemasan di masyarakat atas program asimilasi. Akan tetapi, kecemasan itu tak semestinya menumpulkan pemenuhan hak hidup terhadap napi dalam penjara. Data ICJR per 16 April, mengungkapkan, dari 36 ribu napi yang dilepaskan di seluruh Indonesia, cuma 19 warga binaan yang kembali melakukan kejahatan.