Aktivitas Belajar Mengajar di Wilayah Konflik Belum Berjalan Efektif
beritapapua.id - Christian Sohilait (foto : harianpapuanews)

Aktivitas belajar mengajar di berbagai sekolah pada wilayah konflik belum berjalan efektif pasca kontak senjata antara KKB dan aparat keamanan. Masing-masing wilayah tersebut adalah Kabupaten Intan Jaya, Puncak Jaya dan Nduga yang sampai saat memang proses belajar mengajarnya masih tersendat.

Seperti yang dikatakan oleh kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Papua Christian pada, Selasa (26/5/21) kemarin. Ia sebutkan bahwa beberapa sekolah di wilayah konflik belum bisa berjalan dengan efektif. Dan bahkan ada wilayah yang proses belajar mengajarnya belum berjalan sama sekali.

“Beberapa sekolah di daerah konflik memang aktivitas belajar tidak jalan sama sekali seperti di Beoga. Tapi beberapa tempat lain yakni Intan Jaya, Puncak Jaya dan Nduga ada yang berjalan normal,” ujarnya.

Ia berharap konflik antara aparat dan KKB di tiga wilayah itu segera berakhir sehingga anak sekolah bisa kembali bersekolah untuk meraih masa depan yang lebih baik. Dan semua wilayah bisa kembali melakukan proses belajar mengajar dengan normal seperti biasanya.

Faktor Lingkungan Bisa Berdampak Pada Penyelenggaraan Pendidikan

Christian mengatakan bahwa jika ada permasalahan pada lingkungan sekitar sekolah maka akan berdampak pada penyelenggaraan pendidikan pada daerah tersebut.

“Ketika lingkungan sekitar sekolah terjadi permasalahan sosial maka akan berdampak ke penyelenggaraan pendidikan di lokasi itu,” jelasnya.

Oleh karena itu penyelenggaran pendidikan Papua hingga kini banyak yang tidak berjalan secara maksimal karena faktor lingkungan juga ikut andil dalam hal ini.

“Banyak masalah yang terjadi di lingkungan masyarakat membuat sekolah tidak bisa berjalan efektif, ” tambahnya.

Baca Juga : Akibat Baku Tembak TNI-Polri dan TPNB, Ratusan Warga Mengungsi

Ia mengatakan ketika ada salah satu kelompok masyarakat di masyarakat tidak terpilih menjadi kepala kampung, sekolah jadi sasaran untuk dipalang.

“Faktor lingkungan juga membuat anak -anak tidak pergi ke sekolah, “ujarnya.

Menurutnya, perilaku buruk masyarakat tidak akan mendukung penyelenggaraan pendidikan di Papua seperti kasus kekerasan yang menimpa guru -guru yang bertugas di pedalaman Papua. “

Disdik Papua menerima banyak laporan kejadian dimana rumah- rumah guru dan sekolah dibongkar dan barang- barang mereka dibawa kabur pencuri. Nah, perilaku seperti ini harus kita ubah. kebiasaan masyarakat yang kurang bagus jangan sampai merusak anak-anak dan pada akhirnya pendidikan tidak bisa jalan di Papua ini,”demikian Christian.