Aktivitas Masyarakat dengan Kondisi Normal yang Baru di Tengah Covid-19
beritapapua.id - Tangkap layar pernyataan Jokowi melalui akun resmi twitter @Jokowi

Aktivitas Masyarakat dengan ‘Kondisi Baru’ di Tengah Covid-19 – Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), pada hari Kamis, 07/05/2020 mengeluarkan pernyataan melalui akun media sosialnya @Jokowi, yang mengatakan “Sampai ditemukannya vaksin yang efektif, kita harus hidup berdamai dengan Covid-19 untuk beberapa waktu ke depan. Sejak awal pemerintah memilih kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar, bukan lockdown. Dengan PSBB, masyarakat masih bisa beraktivitas, tetapi dibatasi”.

Pernyataan ini akan menjadi polemik, tapi beberapa komunitas maupun masyarakat juga mempunyai pendapat yang sama. Adaptasi dengan melakukan aktivitas yang berbatas, sebagai cara untuk tetap hidup di tengah pandemi menjadi sebuah opsi.

David Nabarro, seorang profesor dari Imperial College London, dan seorang utusan WHO untuk Covid-19, mengatakan “ada beberapa virus yang akan sangat sulit untuk ditemukan vaksinnya, jadi masyarakat harus menemukan cara untuk tetap bisa menjalani hidup dan beraktivitas di tengah ancaman virus ini” sebagaimana dilansir dari The Times of Israel, Senin (20/04).

Kondisi hidup di tengah pandemi Covid-19 bukan hanya telah dipikirkan oleh para pakar maupun pemerintah, namun kondisi ini bahkan sudah dijalankan oleh masyarakat. Tanpa adanya kejelasan perihal berakhirnya pandemi, serta tuntutan ekonomi yang semakin tidak menjadikan situasi ini dimungkinkan terjadi.

Baca Juga: Warga Surabaya Terima BLT Sebesar Rp 600 Ribu

Pembatasan Sosial Berskala Besar Berakhir Sia-sia?

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang sudah diterapkan di berbagai daerah, khususnya DKI Jakarta beserta kota-kota penyanggahnya (Bodetabek) selama 1 bulan lebih nampak sudah mulai tak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap lalu lintas maupun aktivitas masyarakat. Seperti terpantau di berbagai kawasan, jalanan mulai ramai dan orang-orang mulai beraktivitas kembali.

Rekatnya populasi urban, kultur daerah dengan perilaku warganya menjadi alasan pesatnya penyebaran virus ini. Dengan tingkat kejangkitan yang tinggi, virus ini akan terus menjadi pandemi selama belum ditemukan vaksinnya.

Berkaca pada wabah dan epidemi hebat yang pernah menghapus jutaan populasi dunia, tanpa adanya vaksin, maka masyarakatlah yang akan beradaptasi dengan penyakit. Tidak seperti Pes yang pernah melanda Jawa pada tahun 1910, dan menghapus 60% populasi penduduk Eropa, masyarakat sekarang paling tidak sudah lebih melek, dibantu dengan kemajuan teknologi.

Imbauan-imbauan pemerintah maupun pantauan espisentrum serta tracing dari daerah terpapar, harusnya bisa memberikan kita kewaspadaan yang lebih. Hidup di tengah pandemi bukan berarti menjadi masa bodoh dengan protokoler kesehatan. Hidup dengan standar baru di tengah pandemi seharusnya bisa lebih meningkatkan kewaspadaan kita terhadap isu kesehatan. Kita juga harus lebih membudayakan hidup sehat.