Aktivitas Pedagang Pelabuhan Teluk Kimi Kembali Ramai
Mama mama sedang berjualan (foto : jubi)

Aktivitas Pedagang Pelabuhan Teluk Kimi Kembali Ramai – Aktivitas di Pelabuhan Laut Samabusa di Distrik Teluk Kimi, Kabupaten Nabire, Papua sudah mulai ramai sekitar puku 9 Waktu Indonesia Timur pada Selasa, 30 Maret 2021.

Satu-persatu calon penumpang KM Labobar mulai berdatangan, karena hari itu jadwal kapal penumpang Pelni akan menyinggahi Samabusa untuk pertama kalinya sejak kurun waktu setahun lantaran pandemi Covid-19 di Papua.

Pada saat calon penumpang dan petugas otoritas pelabuhan berdatangan, di sana sudah terlihat puluhan mama-mama pedagang. Mereka terdiri dari sebagian Orang Asli Papua (OAP) dan sebagian lagi non-OAP.

Pedagang non-OAP kebanyakan menjajakan ‘rokot’ hingga menyediakan berbagai minuman dingin. Sedangkan mama-mama OAP menyediakan berbagai jenis makanan siap saji. Ketupat, keladi, talas, dan sagu bakar. Menu tersebut didampingi dengan sayur daun singkong tumis dicampur bunga pepaya.

Selain itu, dagangan mama-mama Papua tidak hanya fokus satu jualan saja. Penjual pinang misalnya, bisa saja ditambah dengan berjualan makanan.

“Saya tidak hanya jualan sirih pinang, tapi makanan seperti keladi rebus dan ikan goreng,” kata Mama Regina Koibur.

Pedagang Mulai Menggelar Dagangan Sejak Pagi

Para penjual tersebut biasanya sudah berada di areal pelabuhan sebelum kapal penumpang masuk. Meski kapal masuk pada malam hari sekalipun mereka akan menggelar dagangan sejak pagi. Alasannya sederhana, bukan hanya penumpang turun yang berbelanja, tetapi penumpang yang akan naik juga akan membeli.

Dagangan mereka akan diatur di atas sebuah meja kayu berukuran satu kali satu meter yang dibawa dari rumah. Sebuah payung besar menaungi meja itu.

“Kalau ada kapal penumpang masuk, kami akan duluan ke sini atur jualan,” kata Mama Koibur.

Jumlah mama-mama tersebut puluhan orang. Kebanyakan warga yang berdomisili di Kampung Air Mandidi atau Kampung Samabusa dan sekitarnya.

Aktivitas berjualan mereka jalani setiap kapal penumpang singgah di dermaga Pelabuhan Samabura Nabire.

Seperti Selasa itu, KM Labobar merapat di dermaga pukul 13.00 WIT dan para pedagang sudah berjualan sejak pagi.

Ada beberapa kapal penumpang milik PT Pelni yang berlabuh. Misalnya sebelum pandemi Covid-19 hampir tiga kapal, yaitu KM Labobar, KM Tidar, dan KM Dorolonda.

Bukan hanya kapal putih (istilah lokal untuk kapal menumpang Pelni). Ada juga empat kapal perintis.

Berdagang Menjadi Mata Pencaharian Utama Mama-mama

Hitung-hitung dalam sebulan bisa saja enam kali berlabu kapal putih dan empa kali kapal perintis. Inilah peluang mama-mama pedagang yang memanfaatkan sebagai mata pencaharian utama mereka.

“Saya sudah berjualan sejak pelabuhan ini jadi sampai saat ini, jadi kami di sini semacam punya mata pencaharian di sini,” kata Mama Koibur, 60 tahun.

Baca Juga : Klepon atau Onde-Onde? Intip Sejarah Perjalanannya

Mama Koibur mengaku dalam sekali berjualan biasanya akan membawa sebanyak tiga mayang pinang. Jika penumpang kapal dan pengunjung ramai maka akan habis terjual. Ia akan memperoleh keuntungan Rp700 ribu. Belum lagi untuk dagangan lainnya.

Maka untuk sekali berjualan dan pada saat ramai penumpang, rata-rata ia akan memperoleh keuntungan Rp1 juta hingga Rp1,5 juta.

Hasil berjualan ia gunakan untuk memenuhi kebutuhannya dan membiayai seorang keponakan yang sedang kuliah di Manokwari. Sebab dia tidak memiliki anak dan juga suaminya sudah tiada. Penghasilannya akan disisihkan untuk biaya keponakan atau anak dari adiknya.

Ia bersyukur kapal sudah kembali menyinggahi Pelabuhan Samabusa. Hari itu adalah awal ia kembali berjualan setelah absen setahun penuh.

“Jadi saya juga jualan di Pasar Sore, waktu kapal belum masuk satu tahun ini, saya banyak jualan ke pasar di kota,” kata perempuan asal Biak tersebut.

Penjual lainnya, Agustina Imbiri, 36 tahun, sedang berjualan jeruk. Dagangannya ia peroleh dari hasil kebunnya sendiri yang sudah ditanami lebih dari 10 tahun. Harga jeruknya untuk 3 kilogram Rp50 ribu dan 5 kilogram Rp110 ribu. Biasanya, ibu empat anak tersebut akan membawa kurang lebih satu peti jeruk atau sama dengan 50 kg.

“Biasanya habis kalau penumang ramai,” kata warga Kampung Air Mandidi itu.

Setahun Tidak Berjualan Akibat Banyak Kapal Yang Tidak Singgah

Agustina juga mengaku selama setahun tidak berjualan di pelabuhan bersama rekan-rekan lainnya. kebanyakan menghabiskan waktu untuk membersihkan dan merawat kebun jeruknya. Apalagi tidak ada kapal yang singgah sebelumnya, banyak jeruk rusak.
“Pokoknya satu tahun penuh ini kami diam di tempat, tidak bisa apa-apa karena kapal tidak masuk,” katanya.

Para pedagang kini merasa senang lantaran sudah ada kapal yang singgah di pelabuhan. Setidaknya hasil kebun mereka akan dijajakan di pelabuhan.

Agustina senang KM Labobar kembali masuk Pelabuhan Nabire. Sebab dagangannya akan habis. Berbeda dengan kapal penumpang lainnya, entah apa sebabnya ia juga belum paham.

“Kami berterima kasih karena kapal sudah sandar lagi, tapi kami lebih senang kalau KM Labobar, tidak tahu kenapa tetapi biasanya jualan habis, beda dengan kapal lain, jujur kami juga bingung,” katanya.