Alat Musik dari Darah oleh Adat Suku Kamoro Papua
Beritapapua.id - Alat Musik dari Darah oleh Adat Suku Kamoro Papua - Detik

Alat Musik dari Darah oleh Adat Suku Kamoro Papua – Tahukah Anda soal tifa? Itu adalah sebutan bagi alat musik tabuh khas Papua. Bentuknya tidak jauh berbeda dengan kendang masyarakat Jawa. Namun, bentuknya sedikit lebih panjang dan lebih pipih ketimbang kendang yang biasa kita lihat.

Umumnya, khalayak umum mengetahui tifa adalah alat musik tabuh yang terbuat dari kayu, Berbalut kulit hewan, kayu tersebut bisa mengeluarkan suara yang cukup nyaring. Biasanya, masyarakat Papua menggunakan tifa untuk acara adat.

Bukan hanya karena suaranya yang nyaring, tifa ambil bagian dalam acara adat karena nilainya yang sakral. Ukiran-ukiran yang terdapat dalam tifa menjadi representasi dari nenek moyang atau leluhur mereka. Tifa adah kebanggan seorang laki-laki masyarakat Papua, khususnya suku Kamoro.

Saking sakralnya, tifa memiliki pembuatan yang tidak biasa. Lantas, apakah itu?

Baca Juga: Raja Sinetron Raam Punjabi Terpapar Covid-19

Tifa dari Darah dan Kulit Biawak

Dalam masyarakat Suku Kamoro, tifa merupakan benda yang penting. Cara pembuatannya pun tak biasa. Mereka melakukan ritual khusus yang mengorbankan darah manusia.

Suara nyari tifa berasal dari kulit biawak. Proses pertama pembuatan tifa adalah berburu biawak. Pria Suku Kamoro kemudian berburu biawak-biawak besar yang nantinya menjadi media tabuh tifa. Pemilihan kulit biawak menjadi media tabuh jelas ada alasannya.

Gendang biasanya menggunakan kulit sapi atau kulit kambing. Namun, tifa tak menggunakakannya demi kualitas suara. Menurut warga Suku Kamoro, kulit biawak memiliki kualitas suara yang baik.

Setelah mendapatkan kulit biawak, mulailah prosesi penempelan media tabuh dengan kayu. Ini merupakan proses ritual yang menjadi kearifan pembuatan tifa. Untuk merekatkan kulit biawak kepada kayu, mereka tidak menggunakan lem kayu.

Pria Suku Kamoro siap memberikan darahnya sebagai media perekat kulit biawak dan tubuh tifa. Dalam ritual pembuatan tifa, seorang laki-laki memberikan paha mereka. Warga lainnya kemudian mengambil silet dan menyayat paha lelaki tadi layaknya memanen getah karet.

Warga menggunakan cangkang kerang sebagai wadah darah yang mengucur keluar. Kemudian, mereka mengoleskan darah tersebut ke tubuh tifa sebagai perekat kulit biawak dengan kayu.

Setelah itu, mereka akan menabuh tifa untuk mengetahui kualitas suara. Jika suaranya belum enak, mereka akan membakar kulit biawak sampai suaranya enak. Saat ini, tifa tidak lagi menggunakan darah sebagai perekat.

Warga mulai beralih kepada lem kayu dalam pembuatan tifa, khususnya tifa sebagai benda komersil.