Aminatus Sadiyah, Perempuan Papua Ikhlas Mengajar Walau Tak Digaji
beritapapua.id - Aminatus Sadiyah, Perempuan Papua Ikhlas Mengajar Walau Tak Digaji - Islamidia

Aminatus Sadiyah, wanita asal Lembah Baliem, Papua ini memantapkan hati untuk terus berdakwah. Ia melakukan Dakwah dengan cara mengajarkan para ibu dan anak setempat untuk belajar mengaji. Meski tak digaji, dirinya tak pernah mengeluh, Bahkan ia pun tak ragu untuk mengantar jemput para ibu untuk kembali ke honai (rumah khas suku Baliem) meskipun jaraknya tak main-main.

Semangat Muslimah yang tergabung dalam Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) di Jayawijaya, Papua, tak mengendur sekalipun walau dirinya saat itu sedang hamil. Begitupun setelah buah hatinya lahir ke dunia, Sadiyah tak sama sekali berubah. Ia tetap hadir untuk berdakwah kepada umat Islam setempat.

Aminatus Sadiyah, Perempuan Papua Ikhlas Mengajar Walau Tak Digaji
beritapapua.id – Aminatus Sadiyah, Perempuan Papua Ikhlas Mengajar Walau Tak Digaji – cyberdakwah

Syukurnya tersebut berbuah manis karena BSMI yang bekerjasama dengan pihak terkait, memberikan dedikasi kepada Sadiyah, berupa perjalanan umrah gratis. Selain itu cerita tentang Sadiyah juga menyita perhatian Tokoh Papua, Christ Wamea. Ia menyebutnya sebagai sosok inspiratif, Christ juga mengapresiasi serta turut melayangkan doa, baik untuk Sadiyah dan tanah Papua.

“Semoga Aminatus Sadiyah menjadi inspirasi bagi perempuan Papua yang lain di Lembah Baliem,” tuturnya melalui media sosial Twitter pribadi, @ChristWamea.

Baca Juga: Istri Sandiaga Uno, Beli Sepeda Brompton Mencapai Rp200 Juta

Nasib Miris Pengajar di Daerah Terpencil Papua

Sejumlah tenaga pengajar di daerah terpencil memang patut diacungi jempol, pasalnya tak mudah dan banyak kendala yang harus dihadapi. Seperti yang dialami Diana Da Costa, guru muda 23 tahun ini menyebutkan tempat tugasnya di Kampung Kaibusene, pedalaman Kabupaten Mappi ini sangat sulit dijangkau dan membutuhkan dana yang tak sedikit.

Jalur dengan ongkos murah ditempuh dari Keppi, ibu kota Mappi melalui Pelabuhan Keppi ke Pelabuhan Pagai menggunakan speed boat. Speed boat itu disewakan dengan harga Rp800 ribu yang ditempuh dengan waktu 1 jam. Lalu dari Pagai harus berjalan kaki ke Tamaripim 2 jam. Setibanya di Tamaripim, dilanjutkan naik ketinting, atau perahu kecil dengan ongkos Rp750 ribu. Jarak tempuh dari Tamaripim ke Distrik Haju adalah selama 2 jam. Setibanya di Distrik Haju dilanjutkan naik ketinting lainnya dengan waktu 1 jam 30 menit dengan ongkos sewa Rp300 ribu ke Kaibusene.

Selama satu tahun Diana berjuang untuk mendidik anak-anak di SDI Kaibusene tersebut, paling tidak mereka memiliki mimpi untuk menjadi orang yang berguna. Dan perjuangan Diana pun tak sia-sia, pada bulan Februari 2019, anak-anak didik Diana sudah mengalami banyak perubahan.

“Ibu sa su cape ka begini terus saya mau naik pesawat kayak bapak-bapak dorang di Jakarta sana, naik mobil mewah, sa tra pernah naik mobil Ibu guru, sa mau tidur di atas spon, Sa mau minum air bersih, Sa mau jadi orang hebat ibu…”, tulis Diana untuk anak-anak didiknya.