Analisa Kemenangan Chelsea: Resmi Maju ke Final
Selebrasi pemain Chelsea (foto : AP photo)

Setelah tertahan dengan hasil imbang pada leg 1, Real Madrid harus mengaku kalah pada leg 2 laga kontra Chelsea. Artinya, kans Los Blancos maju ke final Liga Champion kandas sudah. Faktanya, imbang pada pada leg 1 adalah keberuntungan Madrid.

Kala itu, pelatih Madrid, Zidane, memainkan pola yang tak biasa, yakni 3-5-2. Banyak pihak yang menilai strategi ini menjadi faktor imbang tersebut. Akhirnya, Madrid harus kebobolan pertama di kandangnya sendiri oleh umpan terobosan lambung Jorginho kepada Thomas Pulisic.

Awalnya, Zidane mengira penempatan Marcelo dan Dani Carvajal sebagai wingback akan efektif. Ia berharap mereka berdua mampu kemampuan menyerang maupun bertahan yang baik.

Namun, analisa Zidane salah. Thomas Tuchel, pelatih Chelsea, begitu piawai dalam meramu permainan timnya. Serangan Chelsea begitu fleksibel dengan pola tiga pemain belakang dan empat pemain tengah, termasuk dua wingback.

Lantas, apa faktor kemenangan Chelsea pada laga kedua?

Performa Pemain Chelsea yang Apik

Kali ini, Zidane turun dengan pola 4-3-3, berbeda dengan pola pada laga pertama. Namun, nampaknya ini memperparah keadaan. Hasil akhir menunjukkan skor 2-0 tanpa balas. Chelsea berhasil menunjukkan permainannya yang api di kandangnya sendiri.

Dengan ini, Chelsea unggul dengan agregat skor 3-1. Tim The Blues resmi akan berlaga pada final Liga Champions. Lantas, apa formula kemenangan Chelsea?

Dalam laga kontra Madrid, Chelsea punya beberapa pemain yang memiliki performa luar biasa. Namun pada sisi lain, beberapa pemain Madrid melakukan blunder dan kesalahan fatal. Tuchel menunjukkan kejeniusannya dalam mengeksploitasi kelemahan tersebut.

Berikut analisa pemain Chelsea dan Madrid dalam laga semi final Liga Champion.

1. Edouard Mendy dan Thiago Silva Kokoh Menjaga Pertahanan Madrid

Performa kiper Chelsea, Edouard Mendy, patut kita beri apresiasi. Ia berhasil mematahkan peluang emas Benzema pada laga kedua. Bahkan, tak hanya sekali. Melainkan dua kali. Pada menit menit ke-18 dan 39, Mendy berhasil menyelamatkan gawang The Blues dari striker Madrid itu.

Total penyelamatan Mendy pada laga kedua adalah 5. Ini adalah catatan baik bagi kiper asal Senegal itu. Namun, kesuksesan Mendy dalam menjaga gawang tak luput dari bantuan Thiago Silva.

Ia adalah bek yang mampu memberikan tekanan pada Karim Benzema sepanjang laga. Akhirnya, Benzema kesulitan untuk mencetak angka. Hal ini terlihat kala striker asal Prancis itu sering menembak dari luar kotak penalti.

Selain itu, Silva terlihat tangguh dalam duel udara. Ia membuat membuat umpan silang Madrid tampak sia-sia. Sebagai catatan performa, Silva berhasil memenangkan lima duel area dan melakukan lima sapuan.

2. Pertahanan Madrid Tak Sesuai Ekspektasi, Nacho dan Ramos Kacau

Faktanya, pemain bintang kelas Sergio Ramos tak mampu memenuhi ekspektasi pelatih maupun fans Los Blancos. Ia tampak loyo dan tidak segar dalam menjaga lini belakang Madrid.

Pemain yang biasanya menjadi pahlawan Madrid itu tak menampakkan keajaibannya pada laga kontra Chelsea. Bahkan, ia kala duel dengan Pulisic yang menyebabkan gol pada gawang Madrid pada leg pertama.

Baca Juga : Kajian Islam : Apakah Ghibah Membatalkan Puasa?

Selain Ramos, Nacho juga gagal menjaga pertahanan Madrid. Pemain berumur 30 tahun itu terlihat tak mampu mengimbangi kecepatan pemain Chelsea. Ia gagal dalam 2 kesempatan krusial yang membuat Madrid kebobolan.

Pertama, Nacho gagal menutup ruang tembak Kai Havertz yang menjadi gol pertama Chelsea pada laga kedua. Selanjutnya, Nacho kalah berduel dengan NGolo Kante yang menjadi peluang gol kedua oleh Mason Mount.

3. Duel Toni Kroos dan N’Golo Kante sebagai Gelandang, Kante Unggul

N’golo Kante berhasil menampilkan performa yang luar biasa. Bayangkan, ia hadir baik dalam lini pertahanan maupun penyerangan. Dan, keduanya berhasil. Kante adalah sosok yang melepaskan umpan pada Havertz yang kemudian menjadi gol oleh Timo Werner.

Bahkan, Kante melepaskan tembakan mematikan pada menit 67. Namun, kiper Chelsea berhasil menepisnya. Pada lini pertahanan, Kante, pandai melakukan build-up. Ia ikut masuk bertahan saat pemain Madrid menerobos masuk ke belakang.

Hal ini tidak imbang dengan performa Toni Kroos. Ia adalah alasan mengapa Kante dapat bergerak bebas. Ia telat dalam mengambil keputusan yang akhirnya membuat pertahanan Madrid goyah.