Ancaman Penjara Untuk Pimpinan Pondok Pesantren Pelaku Pencabulan
beritapapua.id - Ancaman Penjara Untuk Pimpinan Pondok Pesantren Pelaku Pencabulan

Ancaman Penjara Untuk Pimpinan Pondok Pesantren Pelaku Pencabulan – Banyak sekali kasus mengenai pencabulan terhadap anak dibawah umur. Hal itu tentu sangatlah miris setiap mendengar pencabulan atau pemerkosaan terhadap anak dibawah umur. Karena tidak hanya merusak psikolgis anak tetapi juga masa depannya telah direnggut oleh orang-orang yang tidak memiliki akal sehat dan tega melakukannya.

Kasus yang paling baru dan muncul saat ini adalah salah seorang pimpinan pesantren (ponpes) yang dengan teganya melakukan pencabulan terhadap NA (12). NA merupakan siswi kelas 6 sekolah dasar (SD) yang merupakan santriwati di ponpes tersebut.

Peristiwa ini terjadi di Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Kapolres Kediri AKBP Lukman Cahyono seperti dikutip dari Beritajatim.com menyampaikan, dari penyidikan sementara, aksi tersebut terjadi sejak korban masih duduk di bangku kelas III SD.

Tempat kejadian perkara (TKP) dilakukan di kamar rumah pelaku. Sedangkan dari keterangan korban bahwa pelaku telah melakukan perbuatan cabul tersebut semenjak korban duduk di bangku sekolah 3 SD. Perbuatan bejat pelaku terbongkar setelah korban menceritakan perbuatan pelaku kepada temannya, serta bibinya yang merupakan ustazah di ponpes tersebut.

Baca Juga: P2TIM Teluk Bintuni Cetak Sejarah Sumber Daya Manusia

Apa hukuman yang menanti untuk para pelaku pencabulan anak dibawah umur?

Untuk mengetahui lebih lanjut maka kita harus tahu apa itu pencabulan? Pencabulan memiliki kata dasar cabul yang artinya tidak senonoh, melanggar kesusilaan. Sedangkan pencabulan kata benda yang berarti proses, cara, perbuatan cabul atau mencabuli.

Dalam undang-undang pencabulan definisinya tidak diatur secara explisit dalam undang-undang kita. Pasal 289 mengatur mengenai cabul yang berbunyi:

“Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang untuk melakukan atu membiarkan dilakukan perbuatan cabul, diancam karena melakukan perbuatan yang menyerang kehormatan kesusilaan, dengan pidana paling lama Sembilan tahun.”

Sedangkan pencabulan terhadap anak maka kita akan bertumpu pada Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak yaitu pada Pasal 76D:

“Setiap orang dilarang melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain”

Bagi mereka yang melanggar maka berlaku Pasal 81 yang berbunyi:

“Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76D dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) lima tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp. 5.000.000.000 (Lima miliar rupiah)”

Apabila perbuatan dilakukan oleh orang tua, wali, pengasuh anak, pendidik atau tenaga kependidikan, maka pidananya ditambah 1/3 (sepertiga) dari ancaman pidana. Hal tersebut temaktub pada Pasal 81 Ayat (3). Pasal tersebut sesuai sebagaimana tuntutan atau dakwaan yang dijatuhkan kepada tersangka. Tersangka dijerat pasal 81 jo pasal 76 dengan ancaman maksimal penjara 15 (lima belas) tahun.