Anu Beta Tubat Nasihat dari Masyarakat Maybrat
beritapapua.id - Anu Beta Tubat Nasihat dari Masyarakat Maybrat - dakta.com

Hidup yang keras memupuk solidaritas.

Tinggal di pegunungan karst memiliki sejumlah tantangan. Ekosistem tersebut terdiri dari batuan karst dan bukit-bukit kecil yang terbuat dari batu. Sumber air terletak di bawah permukaan dan sesekali sungai kecil mengalir di celah-celah batuan karst. Masyarakat Maybrat sejak dahulu, hidup bersama di tengah kerasnya pegunungan karst. Pasalnya, tanahnya yang tidak subur membuat tumbuhan sukar tumbuh. Tak hanya itu, curah hujan yang minim, hewan buruan, hingga buah-buahan dari hutan menjadi pertimbangan untuk bertahan hidup di sana. Ekosistem seperti itu menempa masyarakat Maybrat untuk menjadi kelompok yang adaptif.

Ekosistem turut andil dalam membentuk perilaku masyarakatnya. Orang bilang, dahulu, orang-orang yang tinggal di pegunungan memiliki suara yang keras disebabkan mereka harus berkomunikasi dari antar bukit. Benarkah? Mitos atau bukan, kasus tersebut menjelaskan bagaimana budaya gotong royong di masyarakat Maybrat terbentuk.

Baca Juga: Manfaat Pohon Sagu dari Daun Hingga Akar di Papua

Pengertian Anu beta tubat

Anu beta tubat adalah semangat gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat Maybrat. Semangat ini muncul dari tantangan yang diberikan oleh tempat tinggal mereka. Menempa pribadi menjadi lebih setia kawan.

Anu beta tubat merupakan semangat yang dilandaskan pada asas gotong royong. Beban satu orang dipikul bersama-sama. Seperti itulah kurang lebih kedengarannya. Sempat disinggung sebelumnya bahwa kondisi tempat tinggal masyarakat Maybrat mendorong mereka untuk beradaptasi. Untuk menjawab tantangan alam, masyarakat Maybrat memperkuat sumber daya manusia dengan cara bergotong royong seperti bercocok tanam, membuka lahan, membangun rumah, hingga saling menyokong kehidupan satu sama lain.

Anu beta tubat dalam bahasa masyarakat Maybrat artinya adalah bersama, kami mengangkat. Semangat ini lestari hingga kini. Pada tahun 2017 lalu, budaya ini ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda, yang masuk dalam kategori domain Pengetahuan dan Kebiasaan Perilaku Mengenai Alam dan Semesta. Lestarinya budaya ini tentu mengalami sinkronisasi dengan perkembangan zaman. Masyarakat tetap bergotong royong dalam hal-hal primer saat ini seperti: pembiayaan sekolah, pembiayaan mas kawin, hingga pembiayaan wisuda anak. Seluruh beban ini ditanggung bersama sehingga terasa lebih mudah.

Kebudayaan ini seakan mengajarkan bahwa beban bukanlah beban apabila ditanggung bersama. Kerap kali kita mendapati sebuah kasus di mana beban orang lain justru menjadi buah bibir bagi tentangga, bahkan kerabat. Perilaku toksik itu menjadi andi terpecah-belahnya masyarakat. Katakanlah faktor ekonomi. Kekurangan materi menjadi buah bibir, kemudian mendorong pelaku untuk berhutang, yang mana hal itu menambah manis isu yang digunjingkan kerabatnya. Namun, apa yang terjadi apabila beban mereka adalah beban kita juga?

Sebuah perspektif yang dianggap primitif, namun tak lebih primitif dari sikap toksik mereka yang merasa dirinya adaptif.