Apa Hukum Membangunkan Sahur dengan Pawai?
Ilustrasi tongtek / pawai (foto : istimewa)

Bulan Ramadhan telah tiba. Banyak dari pemuda-pemudi Indonesia yang semangat untuk memeriahkannya. Salah satunya adalah dengan pawai membangunkan sahur. Setiap pagi, sekitar jam 3 hingga jam 4, ramai para pemuda berteriak,

“Sahuuuur! Sahuuuuur!”

Bahkan, tak jarang ada yang membawa alat tabuhan seperti kentongan agar suara semakin nyaring. Atau, ada pula yang membangunkan sahur dengan alunan musik pop sehingga semakin meriah.

Sebagian orang beranggapan bahwa pawai membangunkan sahur adalah hal yang baik. Menurut mereka, hal ini bernilai ibadah lantaran mengajak umat agar tidak telat sahur dan mampu mendulang kebaikan dari sahur.

Namun, ada juga mereka yang merasa terganggu. Baik ibadahnya, maupun istirahatnya. Misal, ada orang yang sedang merasakan kenikmatan salat tahajud dalam kesunyian malam. Namun tiba-tiba suara pawai sahur memecah kekhusyukkannya.

Atau, ada pula orang yang terganggu tidurnya karena terbiasa untuk bangun sahur 30 menit sebelum adzan subuh. Lantas, bagaimana hukum membangunkan sahur dengan pawai?

Niat yang Baik Harus dengan Cara yang Baik

Ustaz KH Maman Imanul Haq dalam acara Tanya Jawab Seputar Islam, menjelaskan perihal hukum membangunkan sahur. Beliau mengatakan bahwa kita sebelumnya perlu memahami kaidah perbuatan baik dengan cara yang baik.

Baca Juga : Dukung Jalannya PON XX, PDAM Jayapura Siapkan Water Station

“Banyak sekali dari orang yang ingin melakukan kebaikan tetapi dengan cara yang tidak benar. Atau orang yang ingin melakukan kebenaran dengan cara yang tidak baik,” kata Ustan Maman mengutip dari CNN Indonesia.

Beliau mengingatkan bahwa Islam melandaskan perilaku manusia atas 3 pondasi utama. Antara lain Iman, Islam dan Ihsan.

“Maka orang yang hendak membangunkan sahur mengikuti prinsip tersebut. Jangan jam 11 sudah mulai. Sebaiknya mulai jam 3 atau setengah 4. Lalu, ada kebaikan seperti musik yang mereka gunakan adalah musik Islami,” tutur Ustaz Maman.

Dengan demikian, membangunkan sahur perlu memerhatikan aspek lingkungan sekitar. Apakah hal tersebut bersifat mengganggu? Atau sebaliknya? Termasuk memerhatikan penganut agama lain yang tidak menjalankan ibadah puasa dan sahur.

Cara Membangunkan Sahur Zaman Nabi

Membangunkan sahur pun juga sudah ada sejak zaman Nabi. Dahulu kala, para sahabat tidak membangunkan dengan cara pawai atau berteriak Namun, salah satunya adalah dengan cara adzan.

إِنَّ بِلَالًا يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ لِيُنَبِّهَ نَائِمَكُمْ وَيُرْجِعَ قَائِمَكُمْ

“Sesungguhnya Bilal melakukan adzan di malam hari (sebelum subuh), untuk membangunkan orang yang tidur diantara kalian dan orang yang tahajud bisa kembali istirahat (untuk persiapan subuh).” (HR. Nasai, 2170)

Jadi, ada dua kali adzan pada subuh hari. Adzan pertama adalah adzan untuk membangunkan sahur atau salat tahajud. Biasanya adzan ini berkumandang jam 3 atau setengah 4.

Bahkan, beberapa Negeri Timur Tengah masih melakukan hal ini. Kemudian, adzan kedua adalah adzan subuh yang mengajak umat untuk salat subuh. Hal ini sesuai dengan hadis,

“إن بلالا يؤذن بليل، فكلوا واشربوا حتى يؤذن ابن أم مكتوم”

“Sesungguhnya Bilal melakukan adzan di malam hari (sebelum subuh). Makan dan minumlah kalian, sampai Ibnu Ummi Maktum Adzan.” (HR. Muslim 1092).

Adzan ini tak hanya berkumandang pada bulan Ramadhan saja. Namun, beberapa wilayah melakukannya setiap hari pada bulan-bulan lain. Sehingga, hal ini menjadi kebiasaan.

Dengan demikian, kita telah mengetahui cara membangunkan sahur yang memang sudah ada sejak zaman nabi. Sekarang, tinggal kita sendiri bagaimana kita menggunakannya.