Apa Makna ‘Bersyukur Pangkal Lapang’?
Ilustrasi bersyukur (foto : istimewa)

Pernahkah Anda mendengar ungkapan bahwa bersyukur pangkal lapang? Lantas, apa makna lapang? Apakah semakin kaya? Ataukah lapang dalam hal lainnya? Allah berfirman dalam surat Ibrahim ayat 7,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”

Ayat tersebut menjelaskan perihal salah satu keutamaan bersyukur, yakni bertambahnya nikmat Allah. Untuk itu, mari kita pahami makna bersyukur. Menurut Ibnul Qayyim, syukur adalah bentuk persaksian kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Beliau berkata,

الشكر ظهور أثر نعمة الله على لسان عبده: ثناء واعترافا، وعلى قلبه شهودا ومحبة، وعلى جوارحه انقيادا وطاعة

“Syukur adalah menunjukkan adanya nikmat Allah padanya. Dengan melalui lisan, yaitu berupa pujian dan mengucapkan kesadaran bahwa ia telah mendapat nikmat. Dengan melalui hati, berupa persaksian dan kecintaan kepada Allah. Melalui anggota badan, berupa kepatuhan dan ketaatan kepada Allah”

Bersyukur merupakan tanda bahwa seorang hamba telah mendapatkan nikmat. Keutamaan dari bersyukur ada banyak. Bahkan, dalam kondisi sulit pun kita juga patut bersyukur. Faktanya, kita tidak mengetahui rencana Allah dalam kesulitan yang kita rasakan.

Selanjutnya, syukur adalah bentuk kecintaan kepada Allah. Bentuknya dapat berupa tidak berprasangka buruk kepada Allah. Hal ini terwujud dalam rasa bersyukur saat segala kondisi. Baik kondisi menyenangkan maupun sulit.

Keutamaan bersyukur ada banyak. Namun, semua itu terangkum pada satu hal, yakni memudahkan kita dari kesulitan.

Manfaat Bersyukur Adalah untuk Kita Sendiri

Syukur adalah amalan yang kebaikannya akan kita terima untuk kita sendiri secara langsung. Perhatikan Hadits qudsi berikut,

‎يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِى مُلْكِى شَيْئًا يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِى شَيْئًا

“Wahai hamba-Ku, kalau orang-orang terdahulu dan yang terakhir antara kalian, sekalian manusia dan jin. Mereka itu bertakwa seperti orang yang paling bertakwa antara kalian, tidak akan menambah kekuasaan-Ku sedikit pun. Jika orang-orang yang terdahulu dan yang terakhir antara kalian, sekalian manusia dan jin. Mereka itu berhati jahat seperti orang yang paling jahat antara kalian, tidak akan mengurangi kekuasaan-Ku sedikit pun juga.” (HR. Muslim, no. 2577).

Baca Juga : Pemkab Maknowari Tetapkan Status Waspada Virus Demam Babi Afrika

Hadis tersebut menjelaskan bahwa syukur atau tidak, maka tidak akan merugikan Allah. Justru hal itu akan berdampak pada kita sendiri. Hal ini terbukti secara ilmiah. Menurut artikel dalam Personality and Individual Differences, bersyukur punya dampak baik pada psikologis manusia.

Pertama, bersyukur dapat meningkatkan kesehatan fisik. Mereka yang jarang mengeluh dan bersyukur cenderung lebih sehat. Kemudian, menurut peneliti Robert Emmons, bersyukur juga mempengaruhi kebahagiaan.

Dengan sering bersyukur, maka hati akan terasa lapang dan tidak mudah stress. Bersyukur juga mampu meredakan emosi dan menumbuhkan empati.

Lantas, apa makna bersyukur pangkal lapang? Boleh jadi kita maknai sebagai kelapangan dalam bentuk nikmat. Allah akan menambahkan nikmat mereka yang pandai bersyukur. Salah satu nikmat yang paling baik bagi manusia adalah nikmat ketenangan hati. Firman Allah,

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ ۗ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Allah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah . Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”