Berdagang
Apakah Dianjurkan untuk Berdagang

Pernahkah Anda mendengar sebuah hadis yang menyebutkan bahwa 9 dari 10 pintu rezeki adalah berdagang? Hadis tersebut berbunyi,

عليكم بالتجارة فإن فيها تسعة أعشار الرزقة

“Hendaklah kalian berdagang karena berdagang merupakan sembilan dari sepuluh pintu rizki.”

Hadis tersebut berasal dari Al Mughni ‘an Hamlil Asfar, Al Hafizh Al ‘Iroqi pada hadits no. 1576. Secara tersirat, hadis tersebut sangat menganjurkan muslim untuk berdagang sebabai pintu rezeki. Bahkan, berdagang menjadi pintu rezeki yang terbesar.

Namun sayangnya, hadis tersebut termasuk hadis dho’if atau lemah. Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman Al Jibrin, sebagaimana mengutip dari rumaysho, menyebut demikian. Beliau tidak menemukan hadis tersebut dalam kitab shahih, kitab sunan, maupun musnad yang masyhur.

Artinya, tidak melulu berdagang adalah pintu terbesar mencari rezeki. Memang terdapat hadis lainnya yang menyebut keutamaan berdagang. Dari Rafi’ bin Khadij dia berkata,

قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْكَسْبِ أَطْيَبُ قَالَ « عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ

“Ada yang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wahai Rasulullah, mata pencaharian apakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Pekerjaan seorang laki-laki dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mabrur (diberkahi).” (HR. Ahmad, Ath Thobroni, dan Al Hakim. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Lantas, bagaimana menyikapi hal ini?

Memahami Berdagang Sebagai Pintu Rezeki

Baca juga: Doa Nabi Yunus: Doa untuk Mereka yang Punya Hajat

Jangan memaksakan diri untuk berdagang tanpa ilmu. Ini yang patut menjadi acuan kita sebagai muslim dalam memulai perniagaan. Lantaran mendengar berdagang memiliki keutamaan, jangan serta-merta kita terjun tanpa memahaminya.

Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu pernah berkata,

العِلْمُ إِمَامُ العَمَلِ وَالعَمَلُ تَابِعُهُ

“Ilmu adalah pemimpin amal dan amalan itu berada di belakang setelah adanya ilmu.”

Berdagang pun butuh ilmu. Karena dengan ilmu, perdagangan kita dapat bernilai sebagai ibadah. Dan jika tanpa ilmu, bisa jadi kita terjerumus dalam perdagangan yang buruk. Misalnya, riba.

Berikut hadis yang kuat dalam menimba ilmu sebelum berdagang. ‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata,

لَا يَتَّجِرْ فِي سُوقِنَا إلَّا مَنْ فَقِهَ أَكْلَ الرِّبَا

“Janganlah seseorang berdagang di pasar kami sampai dia paham betul mengenai seluk beluk riba.”[7]

Setidaknya seorang muslim yang baik perlu menyiapkan 3 hal sebelum memulai perdagangan. Yakni:
1. Soal riba
2. Soal hutang-piutang
3. Soal spekulasi dan investasi (agar terbebas dari perjudian)

Ketiga hal tersebut menjadi penting sebagai landasan berdagang. Bayangkan apabila kita tidak memahami hukum Islam terkait 3 hal tersebut. Boleh jadi, bukan berkah dan rezeki yang datang melainkan kerusakan. Sebagaimana ‘Ali bin Abi Tholib mengatakan,

مَنْ اتَّجَرَ قَبْلَ أَنْ يَتَفَقَّهَ ارْتَطَمَ فِي الرِّبَا ثُمَّ ارْتَطَمَ ثُمَّ ارْتَطَمَ

“Barangsiapa yang berdagang namun belum memahami ilmu agama, maka dia pasti akan terjerumus dalam riba, kemudian dia akan terjerumus ke dalamnya dan terus menerus terjerumus.”

Jika pertanyaannya ‘apakah Islam menganjurkan untuk berdagang’? Jawabannya bisa ya dan bisa tidak. Berdagang merupakan cara meraih rezeki di mana seorang muslim tau dari mana hasil uang yang ia dapat. Sehinga, ia dapat terbebas dari hal buruk seperti riba.

Dan, Islam tidak menganjurkan untuk berdagang apabila tidak ada ilmu.