Apakah Ngupil Membatalkan Puasa?
Ilustrasi mengupil (foto : istimewa)

Ada sebagian orang yang berpendapat bahwa mengorek hidung atau mengupil membatalkan puasa. Pandangan ini berasal dari hukum memasukkan benda ke dalam rongga tubuh saat puasa.

Dalam dalam kitab Fath al-Qarib, M. Ali Zainal Abidin pernah menjelaskan hal ini. Beliau mengatakan bahwa,

“Puasa seseorang bisa menjadi batal jika ada benda yang masuk ke dalam salah satu lubang yang berpangkal pada organ bagian dalam (jauf). Seperti mulut, telinga atau hidung. Kejadian itu membatalkan puasa, jika benda masuk karena sengaja,” ungkap M. Ali Zainal Abidin, mengutip dari tirto.id.

Menurut penjelasan tersebut, muncul kekhawatiran bahwa mengupil dapat membatalkan puasa. Lantas, apakah benar hukumnya demikian?

Pendapat Ulama: Ngupil Tidak Membatalkan Puasa

Sebagian ulama menyebut bahwa mengupil tidak membatalkan puasa. Misalnya, Ustaz Ammi Nur Baits selaku pembina konsultasisyariah.com. Beliau menyebut tidak ada dalil yang menegaskan perihal ngupil atau mengorek hidung yang membatalkan puasa.

Adapun penjelasan mengenai dali sebelumnya, bahwa yang membatalkan puasa adalah yang masuk ke dalam organ bagian dalam. Dalam kasus ihidung, puasa akan gagal jika kita memasukkan sesuatu hingga rongga dalam.

Salah satu contohnya adalah seperti tes SWAB Antigen. Memasukkan alat tes ke dalam rongga hidung dapat membatalkan puasa. Habib Abdullah bin Husein bin Thahir menjelaskan,

و الخامس الإمساك (عن دخول عين) من أعيان الدنيا وإن قلت ولم تؤكل ما يسمى (جوفا) كباطن أذن وهو ما وراء المنطبق والأنف ما وراء القصبة جميعها

“Kelima adalah menahan (dari kemasukan suatu benda) dari sekian benda dunia. Meski sedikit dan tidak dapat dimakan ke dalam apa yang disebut sebagai (rongga). Seperti bagian dalam hidung, yaitu sesuatu di balik lapisan. Sementara hidung adalah sesuatu di sepanjang pipa/rongga hidung,” (Surabaya, Maktabah Al-Hidayah: tanpa catatan tahun, juz I, halaman 115-116).

Jadi, apakah kita mengupil hingga bagian dalam rongga mulut? Tentu saja tidak. Agar lebih jelas, berikut hal-hal yang membatalkan puasa.

1. Makan dan Minum saat Berpuasa

Pertama, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al Baqarah: 187).

Namun, tidak mengapa jika lupa.

2. Muntah dengan Sengaja

Kemudian, hadis dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ ذَرَعَهُ قَىْءٌ وَهُوَ صَائِمٌ فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ وَإِنِ اسْتَقَاءَ فَلْيَقْضِ

“Barangsiapa yang dipaksa muntah sedangkan dia dalam keadaan puasa, maka tidak ada qodho’ baginya. Namun apabila dia muntah (dengan sengaja), maka wajib baginya membayar qodho’.

Baca Juga : Sebanyak 1.250 Lansia Mendapatkan Suntik Vaksin Sinovac

3. Keluar Mani dengan Sengaja

Selanjutnya, keluar mani dengan sengaja dapat membatalkan puasa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِى

“(Allah Ta’ala berfirman): ketika berpuasa ia meninggalkan makan, minum dan syahwat karena-Ku. Mengeluarkan mani dengan sengaja termasuk syahwat, sehingga termasuk pembatal puasa sebagaimana makan dan minum.”

Perlu kita ketahui bahwa keluarnya mani harus dengan sengaja. Seperti dengan sentuhan. Jika hanya berhayal tidak batal.

4. Haidh dan Nifas Bagi Perempuan

Kemudia, dari Abu Sa’id Al Khudri, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ » . قُلْنَ بَلَى . قَالَ « فَذَلِكَ مِنْ نُقْصَانِ دِينِهَا »

“Bukankah kalau wanita tersebut haidh, dia tidak shalat dan juga tidak menunaikan puasa?” Para wanita menjawab, “Betul.” Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Itulah kekurangan agama wanita.”

5. Niat Membatalkan Puasa

Ingat, jangan sekali-kali berniat membatalkan puasa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Setiap orang hanyalah mendapatkan apa yang ia niatkan.”