Apakah Tes Keperawanan adalah Solusi?
beritapapua.id - Ilustrasi tes keperawan dengan objek buah dan metode pengecekan selaput dara, (Foto: Istimewa)

Belakangan ini dunia pendidikan di Indonesia sedang banyak diperbincangkan, khususnya persoalan Tes Keperawanan. Persoalan ini menimbulkan perbincangan yang serius di kalangan pengamat pendidikan karena hal ini merupakan hal yang sensitif.

Tidak sedikit yang berpendapat bahwa Tes Keperawanan bukan solusi yang tepat untuk menentukan tingkat moralitas generasi muda saat ini.

Di khawatirkan, jika Tes Keperawanan benar diadakan, hal tersebut hanya akan memperuncing masalah moral anak bangsa. Karena seharusnya tidak ada larangan bagi setiap orang dalam hal menuntut ilmu. Baik wanita ataupun laki-laki.

Kebijakan pemerikasaan keperawanan ini menimbulkan banyak pro dan kontra. Alasan pihak yang pro terhadap kebijakan ini adalah untuk mengurangi seks bebas dikalangan siswa sekolah karena berdasarkan data yang ada tingkat seks dikalangan siswa sekolah sangatlah tinggi.

Sedangkan pihak yang kontra berangggapan bahwa tes keperawanan tersebut tidak memandang keadilan seseorang dalam memperoleh pendidikan. Terlebih sangat menyalahi kandungan pancasila dan melanggar HAM.

Tes keperawanan sangat bertentangan dengan Undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak, juga dalam Undang-undang nomor 21 tahun 2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang.

Pergaulan Bebas Dapat Diatasi Tanpa Adanya Pihak Yang Dirugikan

Hak pendidikan juga telah diatur secara jelas dalam pasal 28C ayat 1 Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi: Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia.

Baca Juga: Dilema Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Ditengah Pandemi Covid-19

Pergaulan bebas yang terjadi di generasi muda akan lebih efektif jika diatasi dengan cara lain tentunya tanpa ada pihak yang merasa dirugikan.

Agama sudah mengajarkan cara agar manusia tidak mengalami penyimpangan seksual dengan cara mencegah khalwat (berdua-duaan laki-laki dan wanita bukan mahram di tempat yang sepi) serta meminimalkan ikhtilat (bercampurnya laki-laki dan wanita), serta peran dari orang tua dan para pendidik sangat penting didalam masa depan para generasi muda.

Pentingnya asupan religius untuk para generasi muda juga menjadi salah satu cara untuk mengatasi pergaulan bebas.