Area RTH dibuat Pusat Kuliner
beritapapua.id - Area RTH dibuat Pusat Kuliner

Area RTH dibuat Pusat Kuliner – Sebagai Ibukota, Jakarta merupakan kawasan yang menjadi wadah bagi segala aktivitas ekonomi tiap warganya. Kondisi ini didukung oleh beragam infrastruktur yang telah tersedia atau tengah dibangun untuk menopang aktivitas warganya. Sayangnya Ibukota kita sempat menjadi trending karena memasuki peringkat ke 2 didunia dengan kualitas udara terburuk. Mengapa hal ini bisa terjadi? Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal tersebut terjadi, salah satunya karena kurangnya Ruang Terbuka Hijau atau disingkat RTH.

Ruang Terbuka Hijau adalah area memanjang/jalu dan/atau mengelompok, yang penggunaanya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaruang terbuka ruanman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam, begitulah definisi dari RTH sebagaimana yang termaktub dalam Peraturan Menteri (Permen) Pekerjaan Umum Nomor 05/PRT/M/2008 Tentang Pedoman Penyediaan Dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau Di Kawasan Perkotaan.

Baca Juga: Akibat Menyebarkan Berita Bohong Tentang Corona

Pentingnya Area RTH bagi suatu wilayah

Adanya area RTH dimaksudkan untuk menyediakan acuan yang memudahkan pemangku kepentingan baik pemerintah kota, perencana maupun pihak-pihak terkait, dalam perencanaan, perancangan, pembangunan, dan pengelolaan ruang terbuka hijau. Adapun maksud dari adanya RTH bertujuan untuk:

  • menjaga ketersediaan lahan sebagai resapan air
  • menciptakan aspek planologis perkotaan melalui keseimbangan antara lingkungan alam dan lingkungan binaan yang berguna untuk kepentingan masyarakat
  • meningkatkan keserasian lingkungan perkotaan sebagai sarana pengaman lingkungan perkotaan yang aman, nyaman, segar, indah, dan bersih.

Berdasarkan Undang-Undang (UU) Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang  Pasal 29 Ayat (2) yang berbunyi:

Proporsi ruang terbuka hijau pada wilayah kota paling sedikit 30 (tiga puluh) persen dari luas wilayah kota

Proporsi 30% yang dimaksud merupakan ukuran minimal untuk menjamin keseimbangan ekosistem kota, baik keseimbangan sistem hidrologi dan system mikroklimat, maupun system ekologis lain, yang selanjutnya akan meningkatkan ketersediaan udara bersih yang diperlukan masyarakat, serta sekaligus dapat meningkatkan nilai estetika kota.

Baru-baru ini terjadi polemik antara Fraksi dari PDIP di DPRD DKI Jakarta dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, Fraksi PDIP melakukan protesnya terhadap Pemprov DKI Jakarta karena alih fungsi dimana pada era gubernur sebelumnya di Kawasan Muara Karang, Jakarta Utara, diperuntukan untuk Ruang Terbuka Hijau, yang sekarang dalam pembangunan untuk kawasan pusat kuliner.

Apakah Pembangunan Kawasan Perdagangan di Area RTH Tersebut Dibolehkan?

Terlepas dari polemik tersebut sebenarnya sah-sah saja, apabila dalam pembangunan tersebut izinnya merupakan izin untuk kawasan perdagangan, bukan izin untuk pembangunan RTH. Jika memang izin Awalnya adalah untuk RTH maka selanjutnya pemanfaatannya tidak sebagai mana izin awal maka dapat dibatalkan oleh Pemerintah menurut kewenangan masing-masing sesuai dengan ketentuan Perundang-undangan sebagaimana diatur pada Pasal 37 (2) UU No 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.

Jakarta sendiri pun baru memiliki sekitar 14,9% RTH. Menurut kalian manakah yang lebih penting Untuk pusat kuliner kah atau lebih baik memenuhi standar 30% minimum wilayah RTH di perkotaan. Apapun itu kita berharap pemerintah dapat mengambil kebijakan yang lebih baik kedepannya demi kepentingan warga ibukota dan ekosistemnnya.