Hukum Laki-laki Gondrong
Hukum Laki-laki Gondrong

Bagaimana Hukum Laki-laki Gondrong dalam Islam? – Pernahkah Anda mendengar ungkapan bahwa Nabi dan para sahabat memiliki rambut yang panjang? Ungkapan ini kemudian menjadi alasan sebagian dari kita untuk memanjangkan rambut.

Hukum Laki-laki Gondrong

Bahkan, terdapat penjelasan Ibnu Majah ihwal rambut Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Beliau meriwayatkan dari Abu Bakar bin Abu Syaibah, Yazid bin Harun, Jazir bin Hazim, Qatadah dan Anas,

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِى شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يَزِيْدُ بْنُ هَارُوْنَ أنْبَأَنَا جَزِيْرُ بْنُ حَازِمٍ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ شَعْرُ رَسُوْلِ اللّهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَعْرًا رَجِلاً بَيْنَ أُذُنَيْهِ وَ مَنْكِبَيْهِ. رواه ابن ماجه

“Rambut Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam itu lurus ikal, dan terurai di antara kedua telinga dan bahunya”. (Sunan Ibnu Majah (Juz 4: 604)”

Namun kemudian, ada pula hadis yang menjelaskan bahwa laki-laki tidak boleh terlihat seperti perempuan. Salah satu bentuk menyerupai perempuan adalah rambut laki-laki yang terurai panjang Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, dia berkata

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: «لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ، وَالمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki” [HR. Al-Bukhâri, no. 5885)

Lantas, apakah memiliki rambut gondrong tidak boleh untuk laki-laki?

Boleh Berambut Panjang, Asal Ada Keperluannya

Baca juga: POBSI Papua Gaet Silviana Lu Untuk Target Medali Pada PON XX

Dari Anas bin Malik, beliau meriwayatkan,

وَقْتَ لَنَا فِى قَصِّ الشّارِبِ وَتَقْلِيْمِ الْأَظْفَارِ وَنَتْفِ الْإِبْطِ وَحَلْقِ الْعَانَةِ أَنْ لاَنَتْرُكَ أَكْثَرَ مِنْ أَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً

“Kami diberi batasan dalam memendekkan kumis, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, agar tidak dibiarkan lebih dari 40 hari.” (Sahih Muslim: 258)

Menurut riwayat tersebut, pertama, tidak ada anjuran untuk memotong rambut dalam kurun waktu tertentu. Selanjutnya, dari riwayat Ibnu Majah, Rasulullah shallallahu alahi wa sallam pun memiliki rambut yang panjang. Lantas, apakah boleh berambut panjang?

Yang perlu kita ketahui pertama adalah bahwa Nabi tidak pernah memanjangkan rambutnya melebihi bahu. Menurut Anas bin Malik, Rasulullah memanjangkan rambut dan kadang memendekkannya. Namun, tak pernah panjang rambut Nabi melebihi kedua pundaknya.

Kedua, adapun sejumlah ulama melihat hal ini sebagai perilaku yang tidak wajib untuk mengikutinya. Menurut sejumlah ulama, Nabi memanjangkan rambutnya atas dasar penyesuaian dengan adat masyarakat Arab zaman dahulu.

Ketiga, tujuan memanjangkan rambut adalah menjaga kebersihan serta menjaga kepala dari teriknya sinar matahari. Dengan demikian, penjelasan ini sekaligus menjawab pertanyaan kita soal memiliki rambut panjang.

Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam memanjangkan rambutnya sebagai bentuk penyesuaian dengan kebiasaan orang Arab, kita pun juga demikian. Kebiasaan orang Indonesia–bagi laki-laki–adalah rambut pendek yang rapih dan tidak melebihi kuping.

Sehingga, laki-laki tidak boleh memanjangkan rambut melebihi pundak. Selain itu, Nabi melaknat mereka yang memotong sebagian rambut dan membiarkan sebagiannya. Beliau menyebutnya sebagai qaza.

Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – نَهَى عَنِ الْقَزَعِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang qaza’.” (HR. Bukhari no. 5921 dan Muslim no. 2120)

Dengan demikian, sudah sepatutnya kita orang muslim menjaga penampilan kita tetap bersih dan rapih. Salah satunya dengan potongan rambut yang rapih dan tidak menyerupai perempuan.