Bagaimana Jika Lupa Bayar Zakat?
Ilustrasi menunaikan zakat fitrah (foto : istimewa)

Ramadhan berakhir dalam hitungan hari. Salah satu kewajiban kita sebagai muslim saat menjelang lebaran adalah membayar zakat fitrah. Membayar zakat fitrah adalah wajib sebagaimana Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَرَضَ زَكَاةَ الْفِطْرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat untuk berbuka dari Ramadhan (zakat fithri).” (HR. Muslim, no. 984)

Zakat fitrah adalah harta dalam ukuran tertentu yang wajib kita bayarkan pada hari akhir bulan Ramadhan. Lebih lanjut, beberapa ulama berbeda pendapat soal waktu pembayaran. Pertama, ada yang mengatakan bahwa pembayaran zakat baik beberapa hari sebelum lebaran.

Riwayat yang mengatakan hal ini adalah Nafi’. Beliau berkata,

أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَبْعَثُ بِزَكَاةِ الْفِطْرِ إِلَى الَّذِي تُجْمَعُ عِنْدَهُ قَبْلَ الْفِطْرِ بِيَوْمَيْنِ أَوْ ثَلَاثَةٍ

“Abdullah bin ‘Umar memberikan zakat fitrah atas apa yang menjadi tanggungannya dua atau tiga hari sebelum hari raya Idul Fithri.” (HR. Malik dalam Muwatho’nya no. 629, 1: 285).

Kemudian, ada pula yang mengatakan bahwa kita boleh mengeluarkan zakat fitrah sejak masuk bulan Ramadhan. Namun, menurut Ibnu Qudamah Al Maqdisi dalam kita Al Mughni, zakat sebaiknya keluar saat menjelang hari raya.

Memang, manusia tempatnya lupa dan salah. Meskipun ada aturan boleh membayar zakat sejak awal Ramadhan, namun masih saja ada yang lupa.

Tentu pertanyaannya adalah, apa yang terjadi ketika kita lupa membayarkan zakat? Atau bahkan, sengaja tidak membayar zakat?

Lupa Bayar Zakat Fitrah? Lupa atau Sengaja?

Selanjutnya, perhatikan hadis berikut. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِىَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِىَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang berpuasa dari bersenda gurau dan kata-kata keji. Dan juga untuk memberi makan orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat maka zakatnya diterima. Dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka itu hanya dianggap sebagai sedekah,” (HR. Abu Daud, no. 1609 dan Ibnu Majah, no. 1827. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

Baca Juga : Mengenal Nicolaas Jouwe, Sang Desainer Bintang Kejora

Kemudian, ada dua pandangan melihat lalainya kasus ini. Pertama, karena lupa. Prof Dr Muhammad Amin Suma, Ketua Dewan Syariah Dompet Dhuafa, mengatakan tiada dosa bagi mereka yang lupa.

Oleh karena itu, ia tetap harus tetap bertaubat dan memiliki rasa penyesalan. Dengan demikian, Allah akan mengampuni hamba-Nya yang bertaubat. Allah ta’ala berfirman,

وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ

“Dan Allah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Asy-Syura: 25)

Kemudian, bagi mereka yang sengaja tidak membayar, maka hukumnya berdosa besar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَأَلَ وَعِنْدَهُ مَا يُغْنِيهِ فَإِنَّمَا يَسْتَكْثِرُ مِنَ النَّارِ » فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا يُغْنِيهِ قَالَ « أَنْ يَكُونَ لَهُ شِبَعُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ أَوْ لَيْلَةٍ وَيَوْمٍ

“Barangsiapa meminta-minta, padahal ia memiliki sesuatu yang mencukupinya, maka sesungguhnya iia telah mengumpulkan bara api. Mereka berkata,: Wahai Rasulullah, bagaimana ukuran mencukupi tersebut?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Seukuran makanan yang mengenyangkan untuk sehari-semalam,” (HR. Abu Daud no. 1435 dan Ahmad 4/180.)

Dengan demikian, mereka yang berkucupan dan mampu akan berdosa jika enggan membayar zakat. Jadi, orang seperti ini harus bertaubat dan tidak melakukannya lagi.