Bahlil Lahadalia, Kisah Sukses Pria Yang Besar di Papua
Beritapapua,id - Bahlil Lahadalia, Kisah Sukses Pria Yang Besar di Papua - Wartapolitik

Bahlil Lahadalia, Kisah Sukses Pria Yang Besar di Papua – Tak banyak orang yang mengenal sosok inspiratif satu ini. Pria asal timur Indonesia ini sempat merasakan busung lapar, kini ia memiliki sepuluh perusahaan. Ia adalah Bahlil Lahadalia. Orang-orang mengenalnya sebagai Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Kabinet Indonesia Maju Presiden Joko Widodo.

Sejak kecil Bahlil hidup di Papua, ia sudah berjuang mencari uang untuk sekolahnya. Bukan keinginannya untuk berjualan kue saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Namun, kehidupannya kala itu yang memaksa. Ibunya adalah pembantu rumah tangga dan ayahnya bekerja sebagai buruh bangunan dengan gaji Rp 7.500 per hari.

“Jadi memang sejak SD itu kalau saya mau sekolah, harus cari duit. Jadi saya menjual kue, menjaja kue dari apa yang mamah saya buat, itu adalah bentuk keharusan, yang saya harus lakukan dalam rangka mempertahankan eksistensi hidup. Kalau nggak, saya nggak bisa bantu mamah saya, adik-adik saya banyak,” ujar Bahlil mengutip dari wawancara detik.com.

Baca Juga: Kopi di Lembah Grime: Dari Jember, Tumbuh di Papua

Lika-liku Perjalanan Hidup Bahlil Lahadahlia

Bahlil Lahadalia, Kisah Sukses Pria Yang Besar di Papua
Beritapapua.id – Bahlil Lahadalia, Kisah Sukses Pria Yang Besar di Papua – Potret sultra

Kondisi itu terus berlanjut hingga ia beranjak dewasa. Saat menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Pertama, ia menjadi kondektur angkot, bahkan sopir angkot. Tak hanya itu, Bahlil mengaku pernah menjadi helper excavator.

“Itu berlanjut terus sampai dengan SMP, saya SMP pun, karena memang kondisi orang tua yang susah, akhirnya saya pernah jadi kondektur angkot. Jadi jualan ikan di pasar, itu pernah. Terus pernah jadi helper excavator dari kontraktor, itu pernah. Tinggal di hutan pada saat musim libur sekolah. Saya SMP kelas 3, saya di SMEA, itu jadi sopir angkot,” imbuhnya.

Namun kondisi itu tidak mematahkan semangat Bahlil untuk terus mencari ilmu. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Menengah Atas, Bahlil nekat pergi ke Jayapura untuk kuliah. Kedua orang tuanya tidak tahu rencana itu. Bahlil pamit kepada kedua orang tuanya untuk mencari penghidupan di Jayapura berbekal ijazah, tiga helai pakaian, SIM, dan kantong kresek.

Dari Busung Lapar Hingga Jadi Ketua Senat Kampus

Tiba di Jayapura, Bahlil tak langsung menjadi mahasiswa. Saat itu, hampir tidak ada kampus yang mau menerimanya sebagai mahasiswa. Kala itu, ia tinggal pada sebuah asrama bersama seorang kawan yang saat ini jadi Wakil Gubernur Papua Barat. Dia adalah orang yang menemani dan mengajak Bahlil untuk mendaftar kuliah.

“Jadi pagi-pagi saya daftar, jam 5 subuh, asrama kami itu dekat dengan pasar, jadi saya tukang dorong gerobak. Jadi, kan dari pasar ke tengah jalan, ke pasar itu kurang lebih 70-100 meter, mau tidak mau orang belanja kan harus tenteng tuh belajaannya sampai di pinggir jalan besar sampai dia naik angkot. Nah saya bagian memfasilitasi itu, saya masih ingat itu Rp 200 perak, saya masih ingat itu,” papar Bahlil.

Syahdan, Bahlil akhirnya dapat diterima di salah satu kampus di Jayapura. Ia bahkan sempat kekurangan gizi lantaran kesulitan untuk mendapatkan makan. Misal, untuk sarapan, bahlil kerap memungut mangga yang ada di asramanya. Jika tidak ada, maka ia tidak makan.

Namun, Bahlil masih menyempatkan waktu untuk berkontribusi pada kampusnya. Pertama, ia menjadi seorang aktivis, dan sempat dipenjara atas aksi-aksi yang ia ikuti. Kemudian pada semester 5, Bahlil menjadi ketua senat.

“Jadi saya dipenjara beberapa kali, demo tahun 98, tahun 97 itu kan. Tapi dipenjara bukan karena maling, atau perkosaan orang, bukan. Sebagai ketua senat, memimpin pergerakan memang. Waktu itu saya eks66, waktu di Papua, kami adalah pelakunya.”

Langkah Bahlil Mengentaskan Kemiskinan

Setelah 7 tahun kuliah, Bahlil lulus di tahun 2002. Ia kemudian merintis sebuah konsultan keuangan bersama teman-temannya di Jakarta. Itu merupakan langkah awal Bahlil dalam kehidupannya pasca kuliah. Pria lulusan keuangan ini ditunjuk menjadi seorang direktur oleh perusahaannya.

Menarik, karyawan Bahlil bukanlah orang sembarangan. Dari 70 karyawannya, sebagian besar merupakan lulusan kampus bergengsi, bahkan tamatan luar negeri.

“Karyawan saya hampir 70 orang, dan rata-rata karyawan saya itu adalah orang keuangan, ada yang tamatan UGM, ada yang tamatan yang di IT, juga tamatan Jerman, tapi karena peta lapangannya saya yang kuasai, jadi saya yang ditunjuk oleh teman-teman di Jakarta untuk menjadi pimpinan cabang di sana,” papar Bahlil.

Saat usianya menginjak 25 tahun, Bahlil memiliki gaji sebesar 35 juta dan merupakan sosok pemimpin yang andal. Mulai dari ilmu leadership, negosiasi, dan organisasi, Bahlil ahlinya. Ia mengaku seluruh ilmu itu kebanyakan tidak diajarkan dari kampus, melainkan dari hidupnya di jalanan.

Setelah satu tahun bekerja, Bahlil berhenti kemudian menyerahkan perusahaan itu untuk kawan-kawannya. Bukan karena bosan. Bahlil ingin merintis perusahaannya sendiri. Kisah Bahlil mengentaskan kemiskinan tidaklah singkat. Setelah ia meninggalkan perusahaan itu, ia kembali jatuh. Ia rela melepaskan gaji 35 demi meraih suatu hal yang ia percaya lebih bernilai.

Kini, perusahaan yang ia rintis memiliki holding dari sepuluh perusahaan. Berbagai sektor usaha ia ampu. Mulai dari mulai dari sektor perkebunan, properti, transportasi, pertambangan, dan konstruksi.