Begadang, Apakah Islam Menganjurkan Begadang
Begadang, Apakah Islam Menganjurkan Begadang?

Begadang, Apakah Islam Menganjurkan Begadang? – Mungkin Anda tidak asing dengan anjuran untuk tidak begadang. Sebagian orang mendengarnya dari penyanyi kondang, Rhoma Irama, dan sebagian lainnya mendengar dari para orang tua. Faktanya, anjuran tersebut memiliki dasar Islami.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau menyebut bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidur pada awal malam. Sesuai dengan hadis sebagai berikut,

وَعَنْهَا : أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ يَنَامُ أَوَّلَ اللَّيْلِ ، وَيَقُومُ آخِرَهُ فَيُصَلِّي . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa tidur pada awal malam dan bangun pada akhir malam, lalu shalat.” (HR. Bukhari, no. 1146 dan Muslim, no. 739)

Alasan Islam Tidak Menganjurkan Begadang

Pertama, alasan mengapa Islam tidak menganjurkan begadang adalah terkait dengan ibadah. Menurut sebagian ulama, hadis ini menyebutkan anjuran untuk tidak bedagang. Salah satu alasannya adalah agar seorang muslim dapat menunaikan ibadah salat malam.

Namun, ada dalil lainnya yang menyebut tentang keutamaan tidur lebih awal. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surat Ar Rum ayat 23,

وَمِنْ ءَايَاتِهِ مَنَامُكُم بِالَّليْلِ وَالنَّهَارِ وَابْتِغَآؤُكُم مِّن فَضْلِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لأَيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَسْمَعُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah tidurmu di waktu malam dan siang hari serta usahamu mencari sebagian dari karuniaNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.” (Ar Rum: 23)

Kedua, tidur merupakan nikmat Allah subhanahu wa ta’ala yang patut kita syukuri. Ayat tersebut juga menjelaskan tentang hak tubuh.

Bahwa, tubuh manusia pun memiliki hak untuk beristirahat dan lain sebagainya. Untuk itu, sudah semestinya sebagai seorang muslim untuk berlaku adil pada tubuhnya sendiri.

Dengan demikian, kebanyakan orang tua melarang anaknya untuk begadang atas alasan tersebut. Lantas, bagaimana anjuran tidur dalam Islam?

Jadwal Istirahat dalam Islam

Baca juga: Penembakan di Cafe oleh Oknum Polisi Saat PPKM

Islam memiliki waktu untuk tubuh beristirahat. Kita mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidur awal waktu untuk salat malam. Dalam konteks tertentu, inilah bentuk begadang yang boleh, bahkan sunnah.

Oleh karenanya, ada beberapa anjuran lainnya terkait hak tubuh, yakni waktu istirahat. Pertama, yakni tidur awal waktu sebagai mana hadis sebelumnya.

Kedua, Islam mengajarkan sebuah konsep istirahat siang yang bernama qailulah. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قِيْلُوْا فَإِنَّ الشَّيَاطِيْنَ لاَ تَقِيْلُ

“Tidurlah qailulah (tidur siang) karena setan tidaklah mengambil tidur siang.” (HR. Abu Nu’aim dalam Ath-Thibb 1: 12)

Qailulah dalam bahasa sederhana adalah tidur pada siang hari. Maksudnya, adalah sunnah bagi umat muslim untuk mengambil sebagian waktu siang untuk tidur. Namun, waktu tidur mereka tidak lama, yakni sekadar 15 sampai 30 menit.

Menurut beberapa penelitian, tidur siang punya manfaat baik bagi tubuh. Begitu pula dalam Islam, tidur siang mampu menyegarkan kembali tubuh dan pikiran.

Selanjutnya, Islam menyebut waktu lain untuk istirahat, yakni sebelum salat subuh. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا ، قَالَتْ : كَانَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إِذَا صَلَّى رَكْعَتَي الفَجْرِ ، اضْطَجَعَ عَلَى شِقِّهِ الأَيْمَن . رَوَاهُ البُخَارِي
“Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah shalat dua rakaat (sebelum) Subuh, beliau berbaring di atas sisi tubuhnya yang kanan.” (HR. Bukhari)

Artinya, Nabi mencontohkan untuk istirahat sejenak sebelum salat subuh. Maksud dari perilaku tersebut adalah istirahat sejenak setelah melakukan salat malam. Adapun jika tidak melakukannya tidak mengapa.

Demikianlah perihal tidur dan begadang dalam Islam.