Belajar Berharap Kepada Allah dari Kisah Nabi Zakaria
Ilustrasi ibadah dan berdoa (foto : cnnindonesia.com, iStock)

Belajar Berharap Kepada Allah dari Kisah Nabi Zakaria – Pernahkah Anda mendengar seseorang berkata ‘biarlah urusan itu Allah yang atur’? Kemudian, kita menyerahkan segala urusan hanya kepada Allah tanpa usaha untuk meraihnya. Hal ini bisa benar atau sebaliknya.

Bahwa, ketika kita menginginkan sesuatu, maka berharap kepada Allah saja tidak cukup. Menyerahkan urusan kepada Sang Khalik adalah hal yang wajib. Namun, kemudian tidak mengusahakannya hal yang berbeda.

Mari kita tengok kembali kisah Nabi Zakaria. Allah berfirman dalam Surat Al Anbiyaa ayat 89-90,

وَزَكَرِيَّا إِذْ نَادَى رَبَّهُ رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ (89) فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَى وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ (90)

Dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya: “Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan Aku hidup seorang diri (tanpa keturunan, pen) dan Engkaulah waris yang paling baik. Maka kami memperkenankan doanya, dan kami anugerahkan kepadanya Yahya dan kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada kami dengan harap (rogbah) dan cemas (rohbah) dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada kami”. (QS. Al Anbiyaa’: 89-90).

Ayat ini mengisahkan keinginan Nabi Zakaria dan istrinya untuk memiliki keturunan. Dalam ayat tersebut, terdapat kata harap (rogba) dan cemas (rohbah). Dua kata tersebut merupakan kunci dari pengharapan kepada Allah yang patut kita tiru.

Saat Nabi Zakaria benar-benar menginginkan sesuatu, maka ia bersegera melakukan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Beliau berdoa dengan penuh harap dan takut akan azab Allah. Kemudian, tak lupa ia berusaha untuk meraih apa yang ia inginkan.

Maka, apa makna berharap dalam pandangan Islam?

Memaknai Berharap dan Meminta dari Kisah Nabi Zakaria

Pertama, mari kita bedakan antara ‘berharap’ dan ‘meminta’. Dalam bahasa Arab, kata berharap dan meminta dapat menggunakan rogbah atau roja’. Namun, keduanya memiliki pengertian yang berbeda.

Baca Juga : Pelaku Bentrok Antar Warga Berhasil Ditangkap Polres Manokwari

Selanjutnya, dalam Madarijus Salikin Juz kedua, Imam Ibnul Qoyyim, mengatakan bahwa rogbah adalah usaha untuk mendapatkan sesuatu. Sedangkan roja’ hanya sebuah keinginan penuh harap tanpa ada aksi untuk mewujudkannya.

Lantas, mana yang baik? Berharap atau meminta? Dari kedua hal tersebut, dapat kita maknai bahwa berharap saja tak cukup. Maka, kita perlu melakukan permintaan melalui doa kepada Allah beserta upaya untuk mewujudkannya.

Kemudian, usaha seperti apa yang harus kita lakukan? Mengacu dari kisah Nabi Zakaria, maka usaha yang dapat kita lakukan ada dua. Pertama, beribadah dengan rasa takut dan cemas apakah Allah akan menerima ibadah kita atau tidak.

Syaikh Sholih Alu Syaikh hafidzohullah menyebut bahwa rasa takut dan cemas adalah pondasi dalam ibadah yang khusyuk. Tapi, jangan salah pengertian. Rasa takut yang kita pupuk bukanlah rasa takut jika doa kita tidak Allah kabulkan. Melainkan rasa takut apakah ibadah kita Allah terima atau tidak.

Kedua, usaha untuk meraih cita-cita atau keinginan tersebut. Misalnya, kita menginginkan untuk pergi haji atau umrah. Maka, kita perlu berusaha untuk menabung dan mencari dana agar dapat pergi ke sana. Selain itu, kita juga harus rajin beribadah dan berdoa kepada Allah.

Itulah makna berharap dari kisah Nabi Zakaria. Bahwa, berharap saja tak cukup untuk mewujudkan sesuatu. Kita memerlukan aksi dan usaha untuk meraih mimpi. Karena itu, janganlah malas untuk bekerja. Terlebih, jangan lelah untuk beribadah.