Belajar Sabar
Belajar Sabar dari Kisah Cinta Salman Al Farisi

Belajar Sabar dari Kisah Cinta Salman Al Farisi – Kisah cinta selalu menarik untuk menjadi bahasan. Siapa yang tak pernah merasakan hal tersebut? Mulai dari cinta monyet, hingga cinta terakhir. Kisah cinta selalu menunjukkan kepada manusia bahwa cinta punya beragam makna.

Namun, ada satu hal yang selalu ada dalam sebuah kisah cinta, yakni sabar. Sifat sabar selalu menjadi kunci dalam sebuah kisah cinta. Baik kisah cinta yang kandas maupun yang langgeng.

Perihal cinta dan kisah kesabaran, maka kita dapat belajar dari sahabat Nabi, yakni Salman Al Farisi. Bayangkan, apa yang akan kita lakukan jika pujaan hati kita ternyata lebih memilih untuk menikah dengan orang lain?

Galau? Stress? Frustasi? Mungkin hal-hal tersebut akan terjadi pada kita. Sebagaimana seorang pepatah mengatakan,

“Cinta membuat manusia bodoh.”

Kisah Salman Al Farisi mengajarkan kita tentang kesabaran. Beliau juga mengajarkan kepada kita bagaimana kita memahami dan memandang cinta. Lantas, bagaimana ceritanya?

Belajar Sabar, Kesabaran Itu Tidak ada Batasnya

Baca juga: BMKG: Waspada Hujan Ekstrem di Papua dan Papua Barat

Salman Al Farisi adalah pemuda saleh nan cerdas. Ia sahabat Nabi yang memiliki kontribusi besar dalam perang khandaq. Salman Al Farisi adalah orang yang memberikan gagasan untuk parit besar dalam menghalau tentara kafir.

Salman adalah keturunan Persia yang tinggal di Mandinah. Beliau merupakan salah satu sahabat dekat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam saat tinggal di sana. Kala itu, Salman diam-diam jatuh hati dengan perempuan Madinah. Namun, Salman ragu.

Salman merasa asing karena ia orang Persia. Ia takut akan segala tradisi pernikahan Madinah yang tidak ia ketahui. Mulai dari cara melamar perempuan Madinah, hingga apa yang mereka sukai.

Lantas, ia pergi kepada sahabat dekatnya, yakni Abu Darda’. Maksudnya, Salman meminta bantuan Abu Darda’ untuk menemaninya meminang pujaan hatinya. Syahdan mereka berdua pergi ke rumah perempuan itu.

Melihat dua sahabat Nabi, orang tua dari anak perempuan itu begitu senang. Terlebih, mendengar kabar bahwa salah seorang sahabat itu akan menikahi putrinya.

“Saya adalah Abu Darda’ dan ini adalah saudara saya Salman dari Persia. Allah telah memuliakan Salman dengan Islam. Salman juga telah memuliakan Islam dengan jihad dan amalannya. Saya datang mewakili saudara saya, Salman, untuk melamar putri Anda,” jelas Abu Darda’.

Betapa bahagianya orang tua dari perempuan itu. Namun, ayahnya berkata bahwa keputusan ada pada anak perempuannya, dan bukan orang tua. Namun, apa jawabannya?

Alih-alih menerima pinangan Salman, justru perempuan itu memilih Abu Darda’. Perempuan itu mengatakan bahwa ia akan menerima Abu Darda’ sebagai suami jika ia menghendaki.

Lantas, apa yang terjadi dengan Salman? Ia tidak marah dan tidak juga patah semangat.
Salman mengaggungkan nama Allah dan bersedia membiayai pernikahan mereka berdua. Bahkan bersedia menjadi saksi.

Memaknai Cinta dalam Islam

Bagi mereka orang sabar, Allah berfirman,

قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS Az Zumar: 10)

Kita dapat belajar sabar dari kisah Salman Al Farisi. Bahwa, tidak ada hal yang lebih besar dari kesabaran. Bahkan, buah dari sabar jauh lebih manis dari seorang perempuan yang cantik jelita.

Bukan hanya saat dapat penolakan. Sabar juga harus ada kala berumah tangga. Sabar dalam membimbing istri, sabar kala menghadapi istri, dan sabar mendidik anak. Tanpa sabar, ke mana semua hal itu akan pergi?

Dari kisah Salman, kita juga dapat belajar bahwa sabar saja tak cukup. Kita perlu ilmu dalam menghadapi suatu masalah agar dapat bersabar padanya. Bayangkan jika Salman tidak tahu keutamaan sabar. Bagaimana jadinya?

Cinta dalam Islam atau dalam bahasa populernya cinta karena Allah bukan konsep sembarangan. Namun, cinta karena Allah adalah cinta yang membimbing dua insan kepada ridha Ilahi.

Cinta harus berdiri di atas pondasi kecintaan kepada agama. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ

“Tiga perkara yang seseorang akan merasakan manisnya iman : [1] ia lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari yang lainnya, [2] ia mencintai seseorang hanya karena Allah, [3] ia benci untuk kembali pada kekufuran sebagaimana ia benci bila dilemparkan dalam neraka.” (HR. Bukhari no. 6941)

Artinya, seseorang harus mencintai agamanya terlebih dulu, sebelum mencintai yang lain.