Benarkan 90 Persen Penyakit Datang dari Pikiran?
Ilustrasi pikiran (foto : unsplash)

Pernahkah Anda mendengar bahwa 90 persen penyakit berasal dari pikiran? Sedangkan 10 persennya lagi berasal dari pola makan kita. Jika benar demikian, maka apakah menjaga kesehatan hanya perlu dengan menjaga pikiran saja?

Tak sedikit yang membenarkan hal tersebut. Misalnya, marah menyebabkan sistem imun kita mengalami depresi. Kemudian, dendam membuat kita cepat sakit karena membunuh sistem kekebalan tubuh.

Atau, stres dapat membuat kita terkena penyakit pencernaan. Seluruh penyakit tersebut muncul dari pikiran negatif atau perilaku negatif. Namun, hal ini muncul berdasarkan penelitian.

Hal ini terungkap dalam buku The Healing & Discovering the Power of the Water. Para peneliti, termasuk Dr Masaru Emoto sebagai pengarang telah menemukan korelasi pikiran dan kesehatan.

Mengutip aldokter, mereka mengakui bahwa berpikir positif mampu menjaga kesehatan lebih baik. Orang-orang dengan pikiran positif tidak mudah sakit dan memiliki usia hidup yang lebih panjang.

Lantas, apakah benar demikian? Bagaimana caranya?

Sederhananya, orang-orang dengan pikiran positif adalah mereka yang cenderung menjaga kesehatannya. Misalnya, mereka pandai mengelola stres dengan melakukan kegiatan yang bermanfaat dan menyehatkan.

Ketika mereka sedih atau gagal, mereka optimis dan segera melakukan perbaikan. Sehingga, tidak ada kesempatan baginya untuk melakukan rekreasi atau hal yang tidak bermanfaat. Contohnya, tidur hingga siang, makan-makanan cepat saji, atau menenggak alkohol dengan alasan stres.

Dengan demikian, menjaga kesehatan tak soal pikiran saja. Boleh jadi pikiran positif, namun jika kita tidak menerapkan pola hidup sehat, maka sama saja.

Waspada Penyakit Psikosomatis, Sakit tapi Tak Ada bukti Medis Fisik

Kendati demikian, kita perlu waspada terhadap penyakit yang berasal dari kondisi pikiran dan mental seseorang. Jane Cindy, M.Psi, Psi. selaku psikolog di RS Pondok Indah – Bintaro Jaya mengatakan demikian.

“Saat individu sedang mengalami stres atau tertekan, atau kondisi seperti psikosomatis, maka simtom-simtom sakit fisik akan terasa. Meskipun tidak ada kondisi medis yang menyertai,” ujar Jane melansir Medcom.id.

Emosi dan pikiran mampu mempengaruhi kesehatan fisik seseorang. Misalnya, merasa mual, pusing, bahkan lemas. Bayangkan, jika kita ke dokter dengan keluhan tersebut, namun dokter tak menemukan sebabnya. Lantas, mengapa?

Baca Juga : Analisa Kemenangan : Chelsea Resmi Maju ke Final

Dalam istilah psikologi, hal ini termasuk dalam psikosomatis atau penyakit “fungsional”. Artinya, ada rasa sakit pada tubuh tertentu tanpa adanya bukti kelainan pada pemeriksaan fisik.

Misalnya, ketika seseorang merasa takut dan cemas, maka tubuh akan bereaksi. Biasanya, sakit yang muncul adalah mual, gemetaran (tremor), berkeringat, mulut kering, sakit dada, sakit kepala, hingga sakit perut. Pada kasus tertentu, cemas dapat menyebabkan napas menjadi cepat, nyeri otot, nyeri punggung, hingga pingsan.

Ketika hal ini terjadi, maka dokter tak dapat mendeteksi permasalahannya. Maka, yang berperan menyembuhkan adalah psikiater.

Dengan demikian, kita dapat akui bahwa pikiran berperan dalam menyebabkan penyakit. Baik penyakit fisik maupun penyakit mental. Namun, bukan berarti seluruh penyakit dapat sembuh dengan pikiran positif saja. Melainkan harus bersamaan dengan pola hidup sehat.