Menabung Uang
Benarkah Sahabat Nabi Tidak Menabung Uang Perlukah Kita

Benarkah Sahabat Nabi Tidak Menabung Uang? Perlukah Kita? – Pernahkah Anda mendengar sahabat Nabi yang gemar menabung? Rasanya, cerita tentang sahabat Nabi yang menyimpan hartanya itu sangat jarang sekali. Atau bahkan hampir tidak ada. Biasanya, para sahabat menyedekahkan hartanya ketika mereka berlebih.

Adapun ketika para sahabat menyimpan uang, mereka menyisihkan seperlunya untuk keperluan keluarga mereka. Hal ini sejalan dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ

“Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas pada muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syuraa: 27)

Pada dasarnya, Allah ta’ala sudah mengatur kadar rezeki setiap manusia. Sebagian orang berpikir bahwa menabung adalah bentuk rasa takut manusia pada hari yang akan datang. Sebagaimana Allah berfirman,

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqarah: 155)

Allah subhanahu wa ta’ala akan menguji hamba-Nya dengan sedikit rasa takut, lapar, dan kekurangan harta. Lantas, apakah menabung termasuk bentuk pengingaran ayat ini?

Bagaimana dengan hukum menabung dalam Islam?

Halal dan Haram Menabung Uang & Harta

Baca juga: Sulitnya Pengguna Narkoba Direhabilitasi

Sebagaimana Syaikh As-Sa’di rahimahullah menyatakan dalam Manhajus Salikin, bahwa hukum segala sesuatu adalah suci dan mubah. Suatu benda atau hal menjadi haram, ketika ada hukum yang menyatakan demikian.

Lantas perihal menabung maka hukumnya adalah mubah. Mengutip pernyataan dari Ustadz Abul Aswad Al Bayati dalam bimbinganislam.com, hukum menabung adalah boleh atau mubah. Artinya, tidak ada pula dalil yang menyebutkan bahwa menabung adalah haram atau tidak boleh.

Namun, ada beberapa kondisi yang membuat menabung menjadi haram. Salah satu kondisi yang membuat menabung menjadi tidak berkah adalah tidak menyedekahkannya. Ibnu Umar radhiyallahu anhuma pernah berkata,

وما أديت زكاته ليس بكنز وإن كثر، وإن كانت تحت سبع أرضين

“Harta yang ditunaikan zakatnya maka ia tidak disebut sebagai kanzun (Perbendaharaan) meskipun banyak, meskipun tersimpan di bawah tujuh petala bumi.”
(HR Abdurrazaq : 7141, Ath-Thabari : 11/425-426, Malik di dalam Al-Muwatho’ : 1/256).

Maksudnya, seseorang menabung dan enggan mengeluarkan zakat. Padahal, sebagian dari rezeki yang Allah berikan adalah milik golongan lain yang membutuhkan.

Kondisi lainnya adalah menabung pada bank yang mengandung riba. Pada dasarnya, konsep menabung pada bank ada nasabah meminjamkan uang pada bank agar mereka menjaga uang tersebut. Atas akad tersebut, maka nasabah tidak boleh mengambil keuntungan dalam bentuk bunga lantaran hal tersebut adalah riba.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

دِرْهَمُ رِبًا يَأْكُلُهُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَعْلَمُ، أَشَدُّ مِنْ سِتَّةٍ وَثَلَاثِينَ زَنْيَةً

Satu dirham riba yang dimakan orang dalam keadaan tahu, itu lebih besar dosanya di sisi daripada berzina tiga puluh enam kali. (HR. Ahmad no. 21957, dihukumi shahîh oleh al-Albani)