Bencana Alam
Bencana Alam Takdir atau Bukan

Bencana dan fenomena alam silih berganti menerpa bumi. Hanya selang beberapa minggu, bahkan hari, gempa dan banjir bergantian menyambangi permukiman. Tak sedikit dari fenomena tersebut yang akhirnya menimbulkan korban jiwa dan kerugian.

Pertanyaannya, apakah kemudian bencana tersebut merupakan takdir? Jika iya, lantas bagaimana saudara kita yang menjadi korban banjir lantaran penggundulan hutan? Bukankah mereka menjadi korban karena ulah manusia lain?

Allah Ta’ala berfirman,

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗوَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚوَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. At-Taghabun: 11)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa segala sesuatu yang terjadi pada manusia merupakan atas izin Allah. Lantas, bagaimana dengan bencana alam. Untuk itu, marilah kita bersama-sama memahami kembali makna qadha dan qadar.

Menurut Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah qadar punya arti yang sama dengan takdir. Itu adalah segala hal yang sudah tertulis pada hidup seseorang. Sedangkan qadha adalah ketetapan Allah pada hamba, berupa apa yang ada, tidak ada, dan perubahan.

Singkatnya, qadar lebih dulu ada sebelum datangnya qadha. Lantas, bencana alam itu qadha atau qadar?

Memaknai dan Menyikapi Bencana Alam sebagai Ketetapan Allah

Baca juga: DPRP Melindungi Hak Adat OAP

Sebagaimana ayat 11 surat At-Taghabun sebelumnya, tidak ada bencana yang terjadi atas dasar izin Allah. Ini mengantarkan kepada kita bahwa bencana alam merupakan ketetapan Allah. Namun, bencana alam yang seperti apa?

Fenomena alam seperti gempa bumi, tsunami dan hujan deras merupakan bencana yang tidak dapat dihindari. Artinya, hal ini murni terjadi karena alam Allah telah menetapkan hal tersebut terjadi.

Mengutip artikel berjudul “Bencana: Antara Qadha’, Qodar, dan Tawakkal” kita perlu memahami makna dari bencana alam. Dalam artikel majalah Pandaran itu, bencana alam adalah fenomena alam yang merugikan manusia. Dengan demikian, segala fenomena alam yang merugikan manusia adalah bencana alam.

Misalkan terjadi gempa namun tidak menimbulkan korban jiwa. Tandanya, gempa tersebut adalah fenomena alam. Begitu pula dengan hujan deras. Ketika hujan tidak menyebabkan kerugian bagi manusia, maka itu fenomena alam. Berbeda jika hujan menyebabkan banjir. Maka banjir merupakan bencana alam.

Lantas, yang mana yang qadar dan mana yang qadha? Menurut artikel tersebut, segala fenomena alam merupakan ketetapan Allah. Artinya, bencana alam adalah qadha yang mana ada anjuran bahwa kita perlu berusaha dalam menghadapinya.

Berusaha dalam hal ini termasuk dengan bersabar dan bertawakal atas kejadian tersebut. Barangkali, bencana tersebut sudah sedemikian rupa dihindari namun tetap terjadi. Maka itu adalah ketetapan Allah.

Misalnya, kita sudah sebisa mungkin menjaga lingkungan agar sehat dan bersih, namun tetap saja banjir. Maka, kita harus berusaha bersabar dan mengimani ketetapan Allah. Dengan demikian, kita dapat meningkatkan keimanan kita.

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ ۗ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al Qur`an itu benar. Dan apakah Rabb-mu tidak cukup (bagi kamu), bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu.” (Fushilat 41 : 53).

Antara Qadar dan Qadha

Lantas, yang mana yang takdir? Dan apa itu takdir? Sederhananya, takdir adalah apa yang sudah menjadi hukum umum manusia. Takdir sudah ada sejak manusia dalam alam ruh yang mana tertulis hingga ajalnya. Takdir dalam hadis Ibnu Mas’ud sudah ditetapkan mengenai 4 hal: (1) rizki, (2) ajal, (3) amal, dan (4) sengsara atau berbahagia.

Hal ini bersifat umum yang mana ketetapannya sama bagi seluruh manusia. Maksudnya, setiap manusia sudah pasti akan mati, memiliki hidup, memiliki rezeki, amal mereka dan kehidupan mereka.

Apa maksudnya amal dalam takdir? Amal merupakan elemen penting yang menentukan kehidupan manusia. Takdir kehidupan manusia hanya ada dua: bahagia dan sengsara. Dan amal manusia-lah yang menentukan kemana manusia akan pergi.

Dalam hadis, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لا يؤد القدر إلا بالدعاء ولا يزيد العمر إلا البر وإن الرجل ليحرم الرزق بالذنب يصيبه

“Takdir yang akan menimpa seseorang tidak bisa ditolak kecuali dengan doa, umur seseorang tiada bertambah kecuali dengan melakukan kebaikan, dan rezeki (kebaikan) akan diharamkan kepada seseorang karena dosa yang dilakukannya.” (HR Ibnu Majah dan at-Tirmidzi)

Jadi, apa bedanya qadha dan qadar? Syaikh Abdurrahman al-Mahmud mengatakan,

لا فائدة من هذا الخلاف ؛ لأنه قد وقع الاتفاق على أن أحدهما يطلق على الآخر… فلا مشاحة من تعريف أحدهما بما يدل عليه الآخر

“Tidak ada banyak manfaat dalam mempelajari perbedaan ini, karena semua sepakat dengan batasan, meskipun berbeda dalam penyebutan namanya… sehingga tidak perlu ada perdebatan untuk memberikan definisi… (al-Qadha wal Qadar fi Dhau’ al-Kitab wa as-Sunah, hlm. 44)”

Boleh dikatakan bahwa qadha adalah hal yang tak bisa diubah dan qadar adalah takdir yang bisa diubah. Namun, keduanya sama. Yang paling penting adalah mengimani hal tersebut dengan cara berusaha memperoleh yang terbaik menurut Allah.

Bencana alam adalah takdir Allah. Tinggal kita yang Allah berikan kesempatan untuk mengubahnya menjadi hal yang mendekatkan diri pada Allah atau sebaliknya.