Benda Budaya Papua diperdagangkan secara Online
beritapapua.id - Benda Budaya Papua diperdagangkan secara Online - Kabar24

Benda Budaya Papua diperdagangkan secara Online – Peneliti senior dari Balai Arkeologi Papua Hari Suroto mengungkapkan fakta bahwa ditemukan Tengkorak asal Asmat dan patung korwar dengan tengkorak kepala dari Teluk Cenderawasih, Papua, diperjual belikan secara daring online di negara-negara Eropa. Disebutkan benda budaya yang dijual secara online itu didapatkan secara ilegal sampai di Eropa. Hal tersebut dikarenakan tidak ada bukti jual beli yang diakui negara maupun pelepasan yang diakui hukum adat. Tengkorak itu pun tidak disertai surat-surat resmi lainnya. Dengan demikian pihak luar negeri tidak memiliki legalitas hukum bagi mereka yang memperoleh benda cagar budaya Papua.

Hari Suroto menuturkan bahwa tengkorak ini merupakan benda budaya yang dijual di Eropa, tetapi secara kemanusiaan, tengkorak tersebut merupakan tengkorak orang Papua yang harus dikembalikan ke Papua.

Sebab pada dasarnya benda cagar budaya Papua ini dilindungi Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang cagar budaya. Dimana menurut undang-undang ini perdagangan benda cagar budaya dianggap ilegal dan melarang perdagangan artefak ke luar negeri. Pemerintah Indonesia bisa menuntut negara-negara, lembaga, museum maupun perorangan di luar negeri yang mengoleksi benda cagar budaya Papua guna mengembalikannya ke Papua. Untuk itu, Pemerintah Indonesia perlu melakukan pendekatan diplomasi antarnegara maupun pendekatan hukum melalui pengadilan internasional guna mendapatkan kembali benda cagar budaya tersebut.

Baca Juga: Kebudayaan Suku Kamoro yang Dikenal Pandai Memahat dan Melukis

Perlu Dilakukannya Perjuangan untuk Penguasaan Cagar Budaya yang ada di Luar Negeri

Pemerintah Indonesia perlu belajar dan berjuang mendapatkan kembali benda cagar budayanya yang ada di luar negeri. Seperti contohnya Pemerintah Italia yang mengadakan perundingan dengan museum-museum luar negeri yang mengoleksi benda cagar budaya Romawi, dengan harapan menghasilkan suatu kesepakatan yang menghindarkan penuntutan hukum tetapi menjamin penguasaan Italia atas benda-benda cagar budaya itu. Ataupun juga dengan Pemerintah Mesir membentuk lembaga khusus untuk mengembalikan artefak-artefak asal Mesir ke negara itu.

Lebih lanjut Hari memperkirakan Lapangan terbang perintis yang rawan penyelundupan benda budaya Papua. Lapangan terbang perintis di wilayah pedalaman Papua selama ini digunakan sebagai jalur penyelundupan benda-benda bernilai budaya ke luar negeri. Seperti lapangan terbang Kapeso, Dabra, dan Kasonaweja di Kabupaten Mamberamo Raya, serta Kobakma dan Kelila di Kabupaten Mamberamo Tengah.

Lapangan terbang lain yang diduga menjadi tempat penyelundupan adalah Mararena di Kabupaten Sarmi, Bokondini, Apalapsili, dan Oksibil di Kabupaten Pegunungan Bintang. Selain itu, juga lapangan terbang Illaga, Sinak, Tiom dan Ilu di Kabupaten Puncak, Yuruf di Kabupaten Jayawijaya, dan Ewer di Kabupaten Asmat. Benda-benda budaya Papua ini bisa lolos ke luar negeri, dari pedalaman Papua diduga salah satunya dibawa melalui jalur penerbangan perintis, kemudian dilanjutkan jalan darat atau jalur laut ke Papua Nugini.

Benda Budaya Papua diperdagangkan secara Online
beritapapua.id – Benda Budaya Papua diperdagangkan secara Online – AyoYogya

Budaya Papua dan Nilai Jualnya yang Tinggi

Hari menilai bahwa benda budaya asal Papua memiliki nilai jual tinggi di luar negeri. Seperti contohnya pada 2017, tengkorak asal Asmat dilelang di Australia, dan berhasil digagalkan oleh Kedutaan Besar RI di Australia. Tidak hanya itu, tengkorak manusia di gua-gua Raja Ampat hilang, yang diduga diambil oleh wisatawan asing. Untuk mengantisipasi penyelundupan berlangsung terus, perlu dilakukan pencegahan dengan pengawasan dan pemeriksaan ketat oleh instansi terkait, seperti Bea Cukai di berbagai wilayah, khususnya di daerah perbatasan dengan Papua Nugini.

Dari informasi warga, para wisatawan itu membayar mahal penduduk setempat untuk memandu mereka menuju ke situs penguburan tersebut. Mereka tidak berkoordinasi dengan Balai Arkelogi Papua maupun dinas terkait. Situs penguburan prasejarah di Teluk Cenderawasih, meliputi Biak, Supiori, Yapen, Numfor, Teluk Wondama dan pulau-pulau kecil di lepas pantai Nabire.

Penguburan prasejarah ini terletak di daerah yang sulit dijangkau, yakni di celah-celah tebing-tebing karst daerah tersebut. Mayat yang dimakamkan di dalam gua itu dilengkapi dengan sejumlah peralatan atau bekal kubur. Tengkorak-tengkorak dari Teluk Cenderawasih banyak yang hilang. Untuk daerah pesisir, para wisatawan diperkirakan membawa tengkorak kepala dengan menggunakan kapal pesiar lintas negara.