Beras, Sagu, dan Sawit Berkelit
beritapapua.id - Beras, Sagu, dan Sawit Berkelit - korindo.co.id

“Digadang memiliki potensi lahan sawit yang luar biasa Papua Barat kaya akan kekayaan alam. Namun di balik itu, terdapat ancaman laten.”

Salah satu potensi Papua yang juga menjadi buah bibir masyarakat Indonesia ialah potensi lahan sawitnya. Seiring mencuatnya pernyataan tersebut, pro kontra akan lahan sawit di Papua pun tak kalah santer dibicarakan. Manajer Advokasi Yayasan Pusaka Bentala Rakyat, Tigor Hutapea, dalam cnn.com mengatakan bahwa pada tahun 2019 sekitar 228.510 kawasan hutan telah di deforestasi untuk dijadikan lahan sawit. Di balik harapan besar sejumlah pihak akan kemasyuran Tanah Papua sebagai lahan sawit, keberadaannya justru menuai polemik.

Mengacu artikel yang ditulis oleh Sophie Chao dari University of Sydney, setidaknya terdapat sejumlah permasalahan yang muncul akibat ekspansi sawit ini. Dalam karyanya yang berjudul Cultivating Consent, ia mengungkap dampak yang diderita warga, seperti permasalahan pangan, perenggutan lahan, hingga polusi udara. Tak hanya itu, karya Sophie Chao juga menyebutkan bahwa pembukaan lahan kerap terjadi tanpa persetujuan masyarakat atau pemuka adat. Jika dipilah, maka persoalan lahan sawit di Tanah Papua ini tak hanya membawa persoalan ekologi, namun berpotensi merembet ke persoalan sosial.

Baca Juga: Kegiatan Olahraga dan Kompetisi Hore Untuk HPN Papua

Pendapat Mark Rubin dan Miles Hewstone Mengenai Diskriminasi Kelompok

Kondisi seperti ini dapat memicu gesekan sosial. Mark Rubin dan Miles Hewstone dalam tulisan mereka yang berjudul Social Identity, System Justification, and Social Dominance menjelaskan bahwa diskriminasi antar kelompok dapat terjadi akibat adanya kompetisi realistis di antara kelompok-kelompok tersebut. Menariknya, mereka pula mendapat tekanan dari proses pembukaan lahan tersebut. Dalam artikelnya Rubin dan Hewstone menjelaskan bahwa negosiasi dan sosialisasi yang dilakukan perusahaan sawit kerap diawasi dan diikuti oleh aparat-aparat kepolisian dan militer. Ini kemudian menciptakan tekanan serta ketakutan tersendiri bagi komunitas adat. Kembali pada artikel Chao, ia menyebutkan bahwa komunitas adat tersebut memiliki kekhawatiran akan ditangkap dan dianggap sebagai separatis karena dinilai menghalangi kepentingan nasional.

Pada dasarnya sawit bukanlah satu-satunya momok bagi Negeri Cendrawasih itu. Tahun 2018 lalu Suku Asmat mengalami kelaparan hebat gizi buruk serta wabah campak yang diduga disebabkan oleh perusakan hutan sekitar. Oleh karenanya, desa yang terdampak akibat perluasan sawit dan ekspansi perkebunan lahan kering perlu mendapatkan perhatian khusus oleh pemerintah. Desa Khaluyam, Suku Asmat, adalah dua dari sekian banyak desa yang terdampak oleh ekspansi tersebut. Jika tidak diperhatikan, maka sejalan dengan analisa Mark Rubin dan Miles Hewstone akan terjadi.