Berkarya Dengan Menjiplak
Young Lex. Sumber: Suara

Berkarya Dengan Menjiplak, Apa Hukumnya? – Rapper sekaligus Youtuber Young Lex kembali membuat kehebohan di jagat maya. Sosok yang dikenal karena kontroversinya kali ini dituduh telah melakukan plagiat. Young Lex di tuduh plagiat pada video klip terbarunya yang berjudul Raja Terakhir (The Last King). Konten ini dituduh menjiplak video klip Lay EXO yang berjudul “Lit” yang telah dirilis pada tahun 2020 lalu.

Kemiripan konsep kedua video ini ditampilkan oleh warga net dengan menampilkan frame-frame dari kedua konten, sebagai bahan perbandingan. Kemiripan kedua konten, bukan hanya pada konsep pembuatan videonya saja. Bahkan aransemen dan irama dari kedua lagu tersebut pun dinilai ada beberapa kemiripan.

Ironinya, kehebohan ini muncul tepat pada saat Indonesia memperingati Hari Musik Nasional pada 9 Maret 2020. Hari yang seharusnya diperingati untuk mengapresiasi para pekerja musik Indonesia ini, justru menjadi refleksi atas kreativitas insan musik. Karena munculnya polemik plagiarisme Young Lex ini.

Plagiarisme telah menjadi masalah klasik pada industri musik di dunia. Perbuatan yang melanggar Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta (UU Hak Cipta) terkadang memang terjadi secara tidak disengaja. Banyaknya karya yang dihasilkan oleh musisi baik nasional maupun internasional, otomatis mempersempit area kreasi dari nada maupun irama yang telah dipergunakan. Maka unsur kesengajaan menjadi esensial dalam menentukan hal ini.

Plagiarisme Dalam Kerangka Hukum

Baca juga: Selamat Hari Musik Nasional, 9 Maret

Oleh karena itu, dalam dunia seni dan musik, dibutuhkan batasan tentang berkarya dengan menjiplak untuk menilai apakah karya dari seseorang itu memenuhi unsur plagiarisme atau tidak. Plagiarisme sendiri di dalam UU Hak Cipta Pasal 4, merupakan pelanggaran terhadap hak cipta atas kekayaan intelektual dalam hal ini karya musik atau lagu yang telah dideklarasikan oleh penciptanya mengenai karyanya tersebut.

Kecuali untuk keperluan pendidikan, penulisan karya ilmiah, pertunjukkan dan pementasan, seseorang tidak boleh mengubah baik sebagian maupun keseluruhan dari karya orang lain, tanpa seizin dari pemilik karya tersebut. Hal ini diatur di dalam Pasal 44 UU Hak Cipta.

Penilaian nilai plagiarisme dari sebuah karya musik, masih menjadi perdebatan. Etika umum dalam dunia musik, mensyaratkan terjadinya tindakan plagiat ini jika sebuah karya musik paling tidak mempunyai kesamaan dengan karya lainnya sebanyak 8 bar atau 32 ketukan.

Untuk menentukan terjadinya plagiarisme pada sebuah karya, dibutuhkan pendapat seorang ahli sebagai dasar pertimbangan terpenuhinya unsur tersebut, jika terjadi sengketa.

Perbuatan plagiat, tidak hanya merugikan seorang pencipta dalam hal ekonomi. Etika umum dari kegiatan penjiplakan, seharusnya tidak dilakukan sebagai standar dari perilaku dari setiap individu, mau dia seniman atau pun bukan.

Young Lex

Rapper sekaligus Youtuber Young Lex kembali membuat kehebohan di jagat maya. Sosok yang dikenal karena kontroversinya kali ini dituduh telah melakukan plagiat pada video klip terbarunya yang berjudul Raja Terakhir (The Last King) yang dirilis pada (8/3). Konten ini dituduh menjiplak video klip Lay EXO yang berjudul “Lit” yang telah dirilis pada tahun 2020 lalu.

Kemiripan konsep kedua video ini ditampilkan oleh warga net dengan menampilkan frame-frame dari kedua konten, sebagai bahan perbandingan. Kemiripan kedua konten, bukan hanya pada konsep pembuatan videonya saja. Bahkan aransemen dan irama dari kedua lagu tersebut pun dinilai ada beberapa kemiripan.

Ironinya, kehebohan ini muncul tepat pada saat Indonesia memperingati Hari Musik Nasional pada 9 Maret 2020. Hari yang seharusnya diperingati untuk mengapresiasi para pekerja musik Indonesia ini, justru menjadi refleksi atas kreativitas insan musik, karena munculnya polemik plagiarisme Young Lex ini.

Plagiarisme telah menjadi masalah klasik pada industri musik di dunia. Perbuatan yang melanggar Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta (UU Hak Cipta) ini, terkadang memang terjadi secara tidak disengaja. Banyaknya karya yang dihasilkan oleh musisi baik nasional maupun internasional, otomatis mempersempit area kreasi dari nada maupun irama yang telah dipergunakan. Maka unsur kesengajaan menjadi esensial dalam menentukan hal ini.

Berkarya Dengan Menjiplak Dalam Kerangka Hukum

Baca juga: Konsumsi Vitamin Apa yang Cocok saat Masa Pandemi?

Oleh karena itu, dalam dunia seni dan musik, dibutuhkan batasan tentang plagiarisme untuk menilai apakah karya dari seseorang itu memenuhi unsur plagiarisme atau tidak. Plagiarisme sendiri di dalam UU Hak Cipta Pasal 4, merupakan pelanggaran terhadap hak cipta atas kekayaan intelektual. Dalam hal ini karya musik atau lagu yang telah dideklarasikan oleh penciptanya mengenai karyanya tersebut.

Kecuali untuk keperluan pendidikan, penulisan karya ilmiah, pertunjukkan dan pementasan. Seseorang tidak boleh mengubah baik sebagian maupun keseluruhan dari karya orang lain, tanpa seizin dari pemilik karya tersebut. Hal ini diatur di dalam Pasal 44 UU Hak Cipta.

Penilaian nilai berkarya dengan menjiplak dari sebuah karya musik, masih menjadi perdebatan. Etika umum dalam dunia musik, mensyaratkan terjadinya tindakan plagiat ini jika sebuah karya musik paling tidak mempunyai kesamaan dengan karya lainnya sebanyak 8 bar atau 32 ketukan.

Untuk menentukan terjadinya plagiarisme pada sebuah karya, dibutuhkan pendapat seorang ahli sebagai dasar pertimbangan terpenuhinya unsur tersebut, jika terjadi sengketa.

Perbuatan plagiat, tidak hanya merugikan seorang pencipta dalam hal ekonomi. Etika umum dari kegiatan penjiplakan, seharusnya tidak dilakukan sebagai standar dari perilaku dari setiap individu. Mau dia seniman atau pun bukan sama saja.