Bongkar Bisnis Prostitusi Online Di Aceh Dengan Tarif Rp 500 Ribu
beritapapua.id - Bongkar Bisnis Prostitusi Online Di Aceh Dengan Tarif Rp 500 Ribu - Tribunnews

Terbongkarnya bisnis prostitusi online di Aceh yang melibatkan tujuh mamah muda ini, memasang tarif Rp 500 ribu sekali kencan. Aparat Kepolisian berhasil menangkap mereka, di antara pelaku yang terlibat itu ada yang berusia 22 tahun. Lokasi penangkapan di dapan hotel wilayah Gampong Paya Tunong, Kecamatan Langsa Baro.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Langsa Iptu Arief S Wibowo mengatakan, awalnya pihak Kepolisian menerima informasi dari masyarakat tentang prostitusi online. Polisi meringkus dua tersangka sebagai mucikari di depan Hotel Harmoni Jalan Jendral A Yani Kota Langsa.

Dua tersangka yaitu Yus (47) warga Gampong Jawa Muka, dan Hen (35) warga Gampong Alur Dua Kecamatan Langsa Baro. Mereka berstatus Ibu Rumah Tangga (IRT), yang berperan sebagai mucikari atau penghubung dan sebagai penerima pesanan atau permintaan laki-laki yang menginginkan perempuan untuk praktek prostitusi.

Berdasarkan keterangan dua orang tersebut, ada lima orang lainnya yang juga bekerja sebagai pekerja seks. Polisi kemudian segera menangkap perempuan lainnya. Dari kelima perempuan tersebut mulai dari perempuan muda hingga ibu rumah tangga. Semuanya warga Kota Langsa. Mereka kini ditahan di Mapolres Langsa.

Baca Juga: DPD Nasdem Bintuni Berikan Masker dan HandSanitezer

Transaksi Melalui Media Sosial Whatsapp

Untuk modus, transaksi praktik prostitusi online ini dilakukan melalui sambungan ponsel maupun menggunakan aplikasi media sosial Whatsapp. Pada penangkapan yang pertama, pelaku pria hidung belang berhasil kabur.

Dari hasil pemeriksaan petugas kedua muncikari ini mengaku mendapat keuntungan hingga Rp 200 ribu. Selain menangkap para pelaku, Polisi juga turut mengamankan empat unit sepeda motor dan uang tunai hasil transaksi sebanyak Rp 450 ribu.

“Sebelum wanita dipesan, terlebih dahulu si wanita menampilkan data pribadi kepada si mucikari melalui aplikasi Whatsapp. Selanjutnya data tersebut diberikan kepada lelaki hidung belang yang akan memesan,” kata Iptu Arief Sukmo.

Atas perbuatan pidananya, para pelaku prostiusi daring itu dijerat dengan Pasal 296 Jo 506 KUHPidana dan Pasal 45 Ayat (1) Jo Pasal 27 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan Pasal 33 Ayat (3) Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014.