Bui Seumur Hidup Untuk Pembantai 51 Muslim
Beritapapua.id - Bui Seumur Hidup Untuk Pembantai 51 Muslim - Liputan6

Bui Seumur Hidup Untuk Pembantai 51 MuslimPenembak masjid Christchurch New Zealand atau Selandia Baru yang menewaskan 51 warga muslim mendapatkan vonis hukuman penjara seumur hidup.

Hakim Cameron Mander, dalam putusannya menjatuhkan vonis maksimum yakni penjara seumur hidup terhadap Brenton Tarrant, sang pelaku penembakan. Vonis seumur hidup ini adalah kali pertama dalam sejarah Selandia Baru.

Hakim Mander menilai tindakan Tarrant sangatlah jahat dan hukum penjara seumur hidup tidak cukup untuk menebusnya. Dalam sidang putusan yang berlangsung selama empat hari, sekitar 90 keluarga korban yang selamat dari peristiwa naas tersebut bersaksi atas kengerian yang mereka alami. Mereka menganggap peristiwa itu sangatlah brutal, dan mereka masih merasakan traumanya hingga saat ini.

Peristiwa penembakan ini sendiri terjadi pada Maret 2019. Tarrant menargetkan jamaah Masjid Al Noord dan Majid Linwood. Penembakan terjadi saat para jamaah sedang melakukan ibadah shalat Jumat.

Pengacara yang mendampingi Tarrant mengatakan bahwa Tarrant tidak menentang vonis penjara seumur hidup tanpa pembebasan bersyarat tersebut.

Perdana Menteri (PM) Selandia Baru Jacinda Ardern menyambut baik vonis penjara seumur hidup kepada Tarrant. PM Ardern pun memuji kekuatan komunitas muslim Selandia Baru setelah vonis pengadilan.

“Tidak ada yang bisa menghilangkan rasa sakitnya, tapi saya harap Anda bisa merasakan pelukan Selandia Baru di sekitar Anda selama keseluruhan proses ini,” ucapnya.

“Trauma 15 Maret tidak mudah disembuhkan, tapi hari ini saya berharap ini menjadi yang terakhir di mana kita memiliki alasan untuk mendengar atau menyebut nama teroris di balik itu,” ujar PM Ardern.

Baca Juga:  Agustinus Rumere, Anak Asal Papua dalam Uang Rp 75.000

Trauma Dari Korban Pembantaian 51 Muslim

Mengutip dari BBC, salah satu korban WNI yang selamat dari penembakan tersebut, Irfan Yunianto mengaku lega terhadap vonis hukuman tersebut. Meski begitu, Irfan mengakui masih ada ganjalan dalam hatinya.

“Saya termasuk yang tidak terluka, tidak tertembak, tapi trauma psikis masih tetap hingga saat ini. Kemudian ada juga teman saya yang sampai saat ini tidak bisa bekerja karena luka tembak; tidak semua peluru bisa diangkat. Sekalipun hukum mati andaikata sistem hukum membolehkan, tetap tidak bisa membayar kehilangan yang kami alami,” papar Irfan.

Irfan pun mengakui bahwa beberapa temannya bahkan memilih untuk pindah masjid agar merasa lebih aman untuk beribadah.