Bukan Cuma Raja Ampat, Tengok Keindahan Kota Kaimana
beritapapua.id - Bukan Cuma Raja Ampat, Tengok Keindahan Kota Kaimana - idntimes

Bukan Cuma Raja Ampat, Tengok Keindahan Kota Kaimana – Akhir-akhir ini, banyak masyarakat yang tertarik untuk mencari senja. Tak hanya lembayungnya yang menampakan romantisme cinta, namun juga nilai filosofis yang terkandung padanya. Baik secara visual maupun metaforis, senja tetap saja indah.

Berbicara perihal senja, salah satu kota Papua Barat ini adalah rajanya. Kota Senja dengan keindahan alam yang siap membuat anak indie tenggelam dalam imajinasinya. Ia adalah Kaimana, kota seluas 16,242 kilometer persegi yang menyuguhkan keindahan alam Papua Barat yang memukau.

Kaimana memiliki laut biru yang membentang pada bagian selatan. Jenih nan biru warnanya saat pagi dan siang hari. Sebuah pemandangan surgawi yang tak kalah dari primadona dunia, Raja Ampat.

Namun, jangan salah. Kala matahari tenggelam, lautan biru membentang mulai merah merona ke arah jingga. Menampakkan keindahannya sebagai Kota Senja. Keindahan itu bahkan abadi dalam lagu ciptaan Alfyan yang berjudul ‘Senja di Kaimana’.

“Kan kuingat selalu, ‘kan kukenang selalu, Senja indah, senja di Kaimana, Seiring surya meredupkan sinar, Dikau datang ke hati berdebar,” begitu lirik lagu Kota Senja.

Selain keindahannya, apa saja yang Kaimana tawarkan untuk pelancong?

 Baca Juga: Rainer Christmas Koibur, Pemuda Papua Lulusan Terbaik di Amerika

Warna-warni Kota Kaimana

Sudah menjadi nilai plus bagi Kaimana untuk lautnya yang tak kalah indah dari Raja Ampat. Selain memanjakan mata, Kaimana punya objek wisata lainnya yang menjadi andalan. Salah satunya adalah berenang bersama hiu paus yang langka.

Salah satu hewan langka dunia, Rhincodon typus atau hiu paus hidup dalam laut lepas Kaimana. Sejak tahun 2012, ia menjadi magnet bagi wisatawan dunia. Uniknya, hiu ini dapat ditemui setiap hari dari pukul 5 pagi hingga 8 pagi. Masyarakat bersama-sama merawat ikan tersebut.

Selain tidak melakukan perburuan, masyarakat kerap memberi makan paus hiu itu dengan ikan-ikan kecil. Kegiatan ini menjadi daya pikat para pecinta hewan sekaligus penggemar kegiatan menyelam. Bahkan, masyarakat mengizinkan pelancong untuk berenang bersama mereka.

Masyarakat yang ramah dengan hewan laut ini tidak lepas dari budaya tradisional mereka. Sasi, adalah sebutan bagi larangan adat untuk berburu pada wilayah yang sudah ditentukan. Fungsinya adalah untuk membiarkan alam kembali subur setelah manusia memanfaatkannya, termasuk laut.

Warga Kaimana masih menjalankan tradisi sasi. Masyarakat nelayan Kaimana kerap memasang sasi setelah menurut mereka hasil mulai menipis. Hasil laut yang terkenal dari Kaimana berupa teripang, kerang, dan kerang batulag.

Tak hanya lautnya, Kaimana punya harta karun darat lainnya berupa peninggalan manusia purba. Sejumlah lukisan manusia purba terpampang pada tembok-tembok gua karts yang tersebar dalam gua. Mulai dari gambar manusia, telapak tangan, ikan, sejenis kadal, bentuk matahari, hingga rahim perempuan menghiasi tebing–tebing karst Kaimana.

Begitulah cara Kota Senja memanjakan para pelancong yang bertandang. Dari laut hingga darat, semua memiliki kemampuan untuk menghipnotis siapa yang memandangnya. Keren, bukan?