Minyak Dunia Diprediksi Sentuh US$130 Bulan Depan
beritapapua.id - Ilustrasi industri minyak. (Foto: Reuters)

Harga minyak dunia diperkirakan akan terus mengalami kenaikan, seiring dengan ketegangan antara Rusia dan Ukraina yang masih saja berlangsung. Hal tersebut disampaikan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Tidak hanya itu saja, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Tutuka Ariadji mengatakan bahwa jika berdasarkan studi yang dilakukan Functional Government Initiative (FGI), harga minyak mentah saat ini belum mencapai puncaknya.

Saat rapat dengan Komisi VII DPR di Jakarta pada Selasa tanggal 29 Maret kemarin, Tutuka mengatakan bahwa puncak dari harga minyak dunia baru akan terjadi pada bulan April. Hal tersebut diakibatkan oleh dampak larangan impor minyak dari Rusia oleh beberapa negara.

Menurutnya, harga minyak brent diperkirakan mencapai 130 dolar AS per barel, di mana saat ini berada pada kisaran 112 dolar AS per barel. Hal yang sama pun berlaku dengan harga gas yang cenderung naik karena berkurangnya suplai gas bumi, tambahnya.

Update Harga Minyak Mentah Dunia

Harga minyak mentah dunia jenis Brent di hari Rabu, tanggal 30 Maret 2022, pukul 12.55 WIB mengalami kenaikan sekitar 0.93 persen, menyentuh US$ 111.3 per barelnya. Untuk jenis WTI, di waktu yang sama menyentuh US$105.1 per barel, atau mengalami kenaikan sekitar 0.82 persen.

Baca Juga: Lockdown Shanghai Turunkan Kembali Harga Minyak Dunia

Harga tersebut memang bisa dibilang cukup rendah, menimbang sebelumnya sempat naik ke harga di kisaran US$ 128 per barel. Meskipun demikian, belum ada pihak yang bisa menjamin kestabilan harga dari minyak mentah dunia ini. Hal tersebut dikarenakan salah satu penyebabnya adalah invasi militer Rusia ke Ukraina. Meskipun kabarnya Beberapa pasukan Rusia telah ditarik dari wilayah itu ke negara tetangga, Belarus.

Dikutip dari CNBC Indonesia, Rusia sendiri belum memberi keterangan resmi saat ini. Namun Sabtu lalu, Moskow memberi sinyal akan mengakhiri perang dan hanya berkonsentrasi di Ukraina Timur, Donbass. Hal tersebut terlihat pengurangan jumlah angkatan bersenjata mereka.