Bulan Lalu, Harga Minyak Dunia Anjlok Hingga 5%
beritapapua.id - Ilustrasi industri minyak. (Dok. Pertamina)

Bulan lalu harga minyak dunia kembali mengalami penurunan. Hal tersebut karena prospek pertumbuhan global yang lebih lemah, suku bunga lebih tinggi dan lockdown Covid-19 di China yang mengurangi permintaan bahkan ketika Uni Eropa mempertimbangkan larangan minyak Rusia yang akan memperketat pasokan. Sehingga, minyak mentah mencatat kerugian kerugian mingguan hampir mencapai lima persen.

Melansir dari website Oil Price pada Sabtu, 23 April 2022 pukul 12.17 PM, harga minyak dunia jenis Brent berada di angka US$106.7 per barel. Di waktu yang sama, minyak mentah jenis WTI berada di angka US$102.2 per barel.

Mengutip dari okezone.com, Untuk patokan global Brent mencapai US$139 per barel di bulan Maret lalu, harga tersebut merupakan harga tertinggi sejak 2008, namun kedua kontrak acuan minyak turun hampir lima persen minggu ini karena kekhawatiran permintaan.

Adapun Dana Moneter Internasional (IMF), yang minggu ini memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi global untuk 2022, dapat menurunkan peringkatnya lebih lanjut jika negara-negara Barat yang menambah dan memperluas sanksi mereka terhadap Rusia atas perangnya melawan Ukraina, dan harga energi naik lebih lanjut, kata pejabat nomor dua badan tersebut.

“Pada tahap ini, kekhawatiran atas pertumbuhan China dan pengetatan berlebihan oleh The Fed, yang membatasi pertumbuhan AS, tampaknya menyeimbangkan kekhawatiran bahwa Eropa akan segera memperluas sanksi terhadap impor energi Rusia,” kata Analis di broker OANDA Jeffrey Halley.

Keterbatasan Pasokan Minyak

Libya yang kehilangan produksi minyak sebanyak 550.000 barel per hari akibat gangguan ikut mempengaruhi harga minyak. Embargo yang dilakukan Uni Eropa terhadap minyak rusia juga akan semakin memeras pasokan minyak.

Baca Juga: Pemprov Papua Salurkan Dana Beasiswa Untuk 355 Mahasiswa Papua di Luar Negeri

Menurut sumber dari Uni Eropa mengatakan kepada Reuters minggu ini bahwa Komisi Eropa sedang bekerja untuk mempercepat ketersediaan pasokan energi alternatif, sementara seorang penasihat senior Gedung Putih mengatakan dia yakin Eropa bertekad untuk menutup atau membatasi lebih lanjut ekspor minyak dan gas Rusia yang tersisa. Sedangkan untuk Belanda mengatakan pihaknya berencana untuk berhenti menggunakan bahan bakar fosil Rusia pada akhir tahun ini.