Bule Kerja
Bule Kerja di Indonesia, Bagaimana Hukumnya

Bule Kerja di Indonesia, Bagaimana Hukumnya? – Media sosial dua hari terakhir ini dihebohkan dengan munculnya sebuah utasan. Utasan tersebut muncul dari seorang turis berkewarganegaraan Amerika Serikat. Turis tersebut bisa mengakali sejumlah peraturan keimigrasian di Indonesia. Turis yang bernama Kristen Gray membuat sebuah utasan. Utasan tersebut tentang bagaimana hidup dan bekerja di Bali dengan biaya yang sangat murah pada saat pandemi.

Bule Kerja di Indonesia

Sumber: https://twitter.com/gastricslut/status/1350698371632173058

Hal ini memantik kemarahan netizen Indonesia. Turis tersebut dianggap mengakali sejumlah peraturan keimigrasian demi kepentingan pribadi. Tidak sampai di situ saja, Kristen dengan sengaja membuat sebuah tutorial tentang bagaimana bisa hidup di Indonesia dengan Visa Turis, pada saat pandemi.

Kristen yang sudah hidup di Indonesia lebih dari 138 hari dianggap sebagai imigran gelap yang bahkan tidak membayar pajak. Kehidupan Kristen yang dianggap glamor di Bali, tanpa membayar pajak, dengan menggunakan visa turis, dianggap sebagai sebuah pelanggaran hukum yang serius. Lantas bagaimanakah seharusnya seorang dengan status seperti Kristen, menurut regulasi Indonesia?

Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 Tentang Keimigrasian

Baca juga: Noken Papua dan Cara Pembuatannya

Visa bagi seorang turis hanya boleh dipergunakan sebagaimana mestinya tujuan dari visa tersebut. Kristen yang menggunakan visa kunjungan atau turis, yang kemudian melakukan aktivitas ekonomi di Bali, sebenarnya dapat dipidana.

Pada Pasal 122 Huruf a Undang-Undang Nomor 6/2011 tentang Keimigrasian, menyebutkan ancaman pidana penjara paling lama lima tahun dan pidana denda paling paling banyak Rp500.000.000. Lantas apa yang seharusnya dilakukan oleh Kristen jika ingin tetap melakukan aktivitas di Indonesia, dan berdomisili di Indonesia melebihi batasan visa turis?

Untuk bisa terus bekerja di Indonesia, Kristen harus mengurus terlebih dahulu Izin Tinggal Terbatas atau ITAS. Permohonan ini dapat diajukan kepada Kepala Kantor Imigrasi atau Pejabat Imigrasi yang ditunjuk, yang wilayah kerjanya melipputi tempat tinggal orang asing.

Visa yang semestinya dipergunakan oleh Kristen pun harusnya visa bisnis, hal ini harus diajukan terlebih dahulu melalui perusahaan sponsor, yang harus disetujui oleh Kementerian Ketenagakerjaan Indonesia. Setelah visa kerja tersebut disetujui, maka imigrasi Indonesia akan mengeluarkan VITAS (Visa Tinggal Terbatas). Vitas ini pun kemudian harus diubah menjadi KITAS seperti yang tersebut di atas, dengan durasi tertentu.

Kristen rupanya menganggap remeh regulasi imigrasi yang ada di Indonesia. Pihak keimigrasian sepertinya akan melakukan investigasi lebih lanjut atas keberadaan komunitas Kristen yang lazim disebut sebagai Nomad Digital.