Bupati Paniai Diminta Tidak Melantik Non OAP
Tampak puluhan kepala kampung demo di halaman kantor DPRD Paniai (suarapapua.com)

Bupati kabupaten Paniai Meki Nawipa diminta tidak memberi jabatan eselon II, khususnya Sekertaris Daerah (Sekda) dan kepala dinas, kepada orang non pribumi atau pendatang.

Puluhan kepala kampung mengusulkan ini saat berdemo pada Senin (8/3/2021) lalu, di halaman kantor DPRD Paniai.

Masyarakat melakukan demo dan tidak terima dengan ujaran rasis kepada Natalis Pigai selaku aktivis HAM Papua pada Januari 2021 lalu. Yang mana Ambroncius Nababan lakukan melalui akun Facebooknya menyandingkan Natalis Pigai dengan gorilla.

Bupati Paniai Tidak Boleh Melantik Orang Luar Papua

Elias Boma, koordinator dan penanggung jawab aksi, mewakili para kepala kampung mengatakan jika dalam waktu dekat Bupati melakukan roling jabatan, tidak boleh melantik orang luar Papua atau pendatang khususnya jabatan Sekda dan kepala dinas.

“Natalis Pigai, tokoh Papua yang ada di Jakarta sana pada bulan Januari lalu, dia disamakan dengan monyet, kera dan gorila. Untuk itu kami minta apabila dalam waktu dekat bapak bupati lakukan roling jabatan tidak boleh lantik orang pendatang khususnya di jabatan Sekda dan kepala dinas. Tidak boleh,” tegasnya.

Menurutnya, sebab ujaran rasis telah berulang dan terus menambah luka hati yang ada sakit dan makin sakit.

“Memang tidak semua orang pendatang sama tapi kenapa kami kasih air susu selalu mereka balas dengan air tuba. Bapak bupati pokoknya tidak boleh lantik. Kalau untuk jabatan lain” tegasnya lagi.

Baca Juga : Lulus dari New Zealand, Pemuda Papua Ini Bangun Bisnis Kuliner

Tokoh pemuda dan intelektual Paniai, Eki Gobai, menyatakan menyepakati sangat usulan para kepala kampung, ia percaya ujaran rasis terhadap orang Papua tak akan berhenti.

“Bagus sekali kalau Bupati merespon, supaya menjadi teguran kedepan tidak terulang kelakuan bodoh itu. Silahkan pak bupati pikir,” ujarnya, Kamis (11/3/2021) di Enarotali.

Natalis Pigai adalah mantan Komisioner Komnas HAM RI. Komentar-komentar pedasnya tidak hanya soal Papua. Apapun masalah untuk nasional selalu ia komentari.

“Jadi jika tidak senang dengan pak Natalis, jangan dengan ujaran rasis. Tetap kami orang Papua tidak akan terima. Itulah bodohnya orang Indonesia tidak bisa ambil hati orang Papua,” pintanya.