Catatan 12 Mei 1998, Trisakti dan Merahnya Langit Jakarta
beritapapua.id - Catatan 12 Mei 1998, Trisakti dan Merahnya Langit Jakarta - Liputan6

Catatan 12 Mei 1998, Trisakti dan Merahnya Langit Jakarta – Soeharto baru saja terpilih kembali sebagai Presiden Republik Indonesia untuk ke-enam kalinya, tahun itu, 1998. Ekonomi Asia sedang carut marut sejak tahun 1997, Indonesia ikut terimbas. Beban hutang yang ditanggung oleh negara selama puluhan tahun mulai membuat kolaps. Situasi politik negara sedang panas, menyusul peristiwa Kudatuli di tahun 1996, eskalasi politik akan segera teragitasi.

Protes mulai menggulung perlahan.  Rakyat lapar, harga-harga menjulang, inflasi menggila, Indonesia luluh lantak. Mahasiswa sebagai garda terdepan gelombang perubahan harus segera turun untuk menyuarakan rakyat. Puluhan ribu mahasiswa melakukan demonstrasi besar-besaran. Long march dilakukan dari Universitas Trisakti menuju Gedung Nusantara. Indonesia harus reformasi. Soeharto harus turun.

Bagi Soeharto, negara sedang genting. Parade militer dimulai di Jakarta, untuk keamanan. Barikade-barikade serta kendaraan militer dari kepolisian dan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) siaga dengan senapan laras panjang lengkap. Hari itu, 12 Mei 2020.

Mahasiswa, dosen, segenap civitas Trisakti berkumpul sekitar 6.000 orang. Bendera dikerek setengah tiang. Indonesia sedang prihatin. Mengheningkan cipta dimulai. Aparat keamanan mulai merengsek masuk. Mahasiswa dan segenap civitas maupun dosen dan karyawan Trisakti mulai teragitasi.

Suasana semakin memanas. Mimbar orasi membakar semangat. Long march tetap dilakukan. Aparat keamanan semakin banyak. Long march harus dihentikan. Mahasiswa bergeming. Pengendalian massa (Dal-Mas) sebanyak 4 truk merengsek membentuk barikade baru, mahasiswa harus berhenti.

Baca Juga: Bagaimana Virus Menyebar Lewat ‘Ngobrol’ Tatap Muka?

‘Api’nya Belum Padam

Mahasiswa dan aparat terus melakukan negosiasi. Mahasiswa ingin agar antara mereka dan DPR/MPR harus segera dilakukan audiensi. Kesepakatan tidak tercapai. Namun dua pihak sepakat untuk mundur secara damai. Tetiba ada suara-suara dan ledekan dari aparat, seperti sebuah provokasi. Mahasiswa dan aparat saling berbalas caci. Perbuatan mahasiswa mungkin sudah dianggap sebagai subversif, aparat pun mulai bertindak represif.

Tembakan diletuskan ke udara, gas air mata mulai mendesis di mana-mana. Mahasiswa panik, berlarian menyelamatkan diri. Aparat mulai melakukan penembakan membabi-buta, tidak hanya penganiayaan. Pelecehan seksual pun harus diterima. Aparat semakin banyak, mahasiswa kocar kacir, berlarian ke sana ke sini.

Letusan senapan dan pistol tak lagi membabi buta, laras-laras tersebut terarah ke tubuh mahasiswa. Puluhan orang luka, dipastikan empat mahasiswa meregang nyawa. Di kampus Trisakti, Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan dan Hendriawan Sie harus menutup mata untuk selamanya. Langit Jakarta tak lagi muram, ia merah bermandi darah. Darah yang ditumpahkan oleh aparat negara. Hari itu, 12 Mei 1998, yang sampai sekarang masih belum mendapatkan keadilan.