Cendrawasih Itu Bernama Arnold ‘Mambesak’ Clemens
Alm. Arnold Clemens Ap., Bernyanyi untuk Hidup (1 Juli 1945 - 26 April 1984) (dok. majalah beko)

Arnold Clemens AP, Kurator dan Antropolog Universitas Cendrawasih (Uncen), ditembak oleh senapan laras panjang pada tanggal 26 April 1984, di Jayapura, Papua. Kronologis penembakan Arnold hingga kini masih gelap.

37 tahun telah berlalu sejak kematiannya, namun tidak ada upaya penyidikan atas tabir yang menyelimuti kematian dari Arnold. Kepergiannya menjadi sebuah tanda tanya besar, setelah sebelumnya ia diciduk oleh TNI karena diduga menjadi bagian dari gerakan separatis.

Tiga butir peluru yang disarangkan di tubuh Arnold, membuat ia meregang nyawa di rumah sakit di Jayapura. Ratusan orang mengantar jenazahnya, tanpa kehadiran keluarganya. Istri Arnold, Corry dan anaknya, sebelumnya telah melarikan diri karena situasi politik yang membara.

Seperti yang kami lansir dari tirto.id, kondisi Papua saat itu dirisaukan oleh operasi militer yang diberi nama ‘Sate’ di perbatasan Papua Nugini – Indonesia. Operasi ini terdokumentasikan oleh Komisi Anti Kekerasan terhadap Perempuan dengan kekerasan yang mencenangkan. Penyiksaan, rumah-rumah dibakar, dan segala bentuk kekerasan lainnya diungkap oleh para penyintas yang berhasil melarikan diri ke Papua Nugini. Istri Arnold merupakan salah satu di antaranya.

Arnold : Mambesak Didirikan Untuk Melestarikan Budaya Asli Papua

Arnold adalah pendiri grup musik ‘Mambesak’ yang berarti Cendrawasih dalam bahasa Biak. Grup ini mengkhususkan diri untuk mendokumentasikan lagu rakyat Papua, dengan bahasa lokal masing-masing.

Arnold dan grup Mambesak juga menolak memasukkan lagu ‘Yamko Rambe Yamko’ sebagai lagu rakyat Papua, karena tidak bisa diverifikasi kebenaran bahasanya. Lagu yang hingga kini masih digugat kebenarannya, dianggap sebagai upaya politik dalam mengidentifikasi Papua.

Baca Juga : Jaga Kesehatan Paru dengan Konsumsi Makanan ini

Lirik tentang budaya dan politis, serta komposisi instrumen yang dipergunakan oleh Mambesak sangat kental dengan kultur asli Papua. Kepopuleran mereka di Tanah Papua kala itu sungguh fenomenal. Lima volume album yang dihasilkan selalu ludes di pasaran.

Nyanyian Sunyi, Ungkapan Keresahan Orang Papua

Salah satu lagu dari Mambesak yang masih relevan untuk Papua hingga kini adalah ‘Nyanyian Sunyi’. Lagu ini menceritakan tentang bagaimana keindahan dan kekayaan Tanah Papua yang begitu memukau. Namun kekayaan tanah itu, perlahan menggusur orang Papua akibat eksploitasi yang mengecualikan orang Papua sebagai pemilik ulayat.

Tanah yang permai, yang kaya melara. Terhampar di sana, di Timur merekah. Surga yang terlantar, yang penuh senyuman. Laut Mutiara, yang hitam terpendam. Sepenggal lirik itu, yang diciptakan oleh Arnold lebih dari 40 tahun yang lalu, masih diinterpretasikan dekat dengan kondisi sosial di Papua hingga kini.

Arnold adalah martir bagi perjuangan orang Papua yang merindukan pencerahan. Ia menjadi simbol pergelutan untuk menemukan identitas asli Papua, yang distigmatisasi sebagai ‘primitif’ sebagai bagian dari upaya dekulturasi.

Arnold adalah dentuman suara tifa yang mengalun harmonis bersama budaya asli Papua, dan disajikan indah melalui tarian dan lirik yang kaya. Ia adalah pengingat bagi anak muda Papua untuk mengingat rahim mama Papua.