Cerita Dari Alam dan Pelatihan Teknik Teluk Bintuni
Cerita Dari Alam dan Pelatihan Teknik Teluk Bintuni

Cerita Dari Alam dan Pelatihan Teknik Teluk Bintuni – Pada pertengahan November silam, Moeldoko sebagai Kepala Staf Kepresidenan Republik Indonesia periode 2019-2024 bertemu dengan lulusan Vokasi Pusat Pelatihan TeknikĀ  Industri dan Migas (P2TIM) Teluk Bintuni, Papua Barat di Istana Merdeka.

Saat itu Moeldoko menerima enam lulusanĀ Vokasi Petrotekno Technical School dari Teluk Bintuni-Papua Barat. Enam anak muda Papua itu antara lain ada Barend Oscar Rumbrawer, Ali Kawager, John Albert Manibui, Marthen Rudamaga, Agustinus Maidepa, dan Alex Siyoho.

Mungkin sebagian besar masyarakat Indonesia masih belum menyadari bahwa ada potensi tersembunyi dari Teluk Bintuni. Sebuah kabupaten di wilayah Papua Barat, persis di area “kepala burung” Kepulauan Papua.

Sekolah Petrotekno Technical School yang terletak di Km 4 Teluk Bintuni, telah meluluskan sekitar 400 lulusan terbaik. Mayoritas dari mereka merupakan anak-anak Papua. “Hampir 80% siswa kami adalah pemuda asli Papua, beberapa malah merupakan putra daerah dari Bintuni yang merupakan ras Subitu. Mereka adalah lulusan yang telah terlatih selama tiga bulan untuk mendalami industri migas”, tukas Sarwono Pratomo Satrio, Direktur Pusat Pelatihan Teknik Industri dan Migas (P2TIM) dalam kesempatan itu.

Baca Juga: Pencarian Jati Diri Masyarakat Bintuni

Pendidikan di Petrotekno Technical School

Para siswa yang rata-rata berusia 19-35 tahun itu selama kurang lebih 3 bulan “digembleng” pelatihan. Tidak hanya itu, mereka juga menjalani pendidikan penuh disiplin dari para tenaga ahli yang disiapkan secara khusus oleh PetroTekno.

Beberapa penjurusan yang dibutuhkan industri migas seperti scaffolding dan rigging (lifting) akan diterima siswa di bulan ke-2 mereka masuk P2TIM. “Ini berdasarkan minat siswa dan skill juga, mau di scaffolding yang butuh tekanan fisik atau rigging yang butuh konsentrasi”, ujar Sarwono lagi.

Boleh dibilang semua peralatan teknik yang betul-betul sama dengan industri migas pada umumnya dimiliki oleh P2TIM Petrotekno. Mulai dari alat berat seperti welder, scaffolding hingga rigging.

Tidak hanya ilmu-ilmu industri, Matematika dan Bahasa Inggris yang menjadi kunci dalam industri migas juga diajarkan di P2TIM Petrotekno.

“Sebagian siswa masih antusias kita ajarkan Bahasa Inggris dan Matematika dasar sebagai pembekalan di industri. Beberapa yang kurang mengerti, biasanya akan mengulang kelas di malam hari di asrama”, kata Egi, salah satu guru Matematika di P2TIM Petrotekno.

Pelatihan yang Didapat Siswa P2TIM

Menariknya lagi, para siswa yang masuk P2TIM mendapatkan pelatihan teknik dan akomodasi secara cuma-cuma. Akomodasi tersebut seluruhnya ditangggung oleh Pemda Kabupaten Teluk Bintuni. Mereka juga mendapatkan 18 sertifikat berstandar internasional, seperti EC ITB dan BNSP.

Saat bertemu dengan enam pemuda Papua yang juga alumni sekolah P2TIM Petrotekno, Moeldoko sempat berpesan. “Terus bekerja keras dan bisa menjadi motivasi bagi keluarga dan lingkungan agar pembangunan negara bisa berkelanjutan, sesuai visi misi Presiden Jokowi yang ingin membangun SDM Indonesia unggul dan maju”.

Dari catatan yang ada, Teluk Bintuni yang punya luas 20.840 km2 dan jumlah penduduknya sebanyak 76.932 jiwa dikenal sebagai kabupaten industri migas. Hal tersebut dikarenakan ada beberapa perusahaan migas dunia yang membuka cabangnya di sini.

Selain itu potensi lainnya adalah sektor pertanian dan perikanan. “Selain fokus pada pelatihan migas, P2TIM juga punya sektor agro yang dikembangkan. Ini untuk memanfaatkan potensi kekayaan Bintuni selain migas seperti menanam sayur mayur yang hasilnya akan dibalikan lagi untuk komunitas masyarakat setempat”, tambah Sarwono Pratomo Satrio, Direktur Pusat Pelatihan Teknik Industri dan Migas (P2TIM).

Potensi lain Bintuni adalah tempat pariwisata yang masih alami berupa hutan hujan tropis. Gunung Botak yang benar-benar gundul dengan tekstur tanah merah menjadi salah satu spot instagramable. Dari atas Gunung Botak kita bisa melihat pemandangan laut lepas Samudera Pasifik yang didominasi warna biru.

Di tengah kota Bintuni, pada sore hari, biasanya pemuda atau warga lokal akan datang ke pelabuhan demi berfoto momen matahari terbenam atau sekadar berenang. Keindahan alam berupa hamparan air jernih berhias hutan rawa gambut tentu pantang dilewatkan.