Charles Toto, Kuliner Papua untuk Dunia
beritapapua.id - Charles Toto, Kuliner Papua untuk Dunia - Charles Toto's Facebook

“Lewat tangannya, Charles Toto merawat hidangan Papua. Dari hutan Tanah Cenderawasih, ia pukau dunia. Lahir di Jayapura, Papua, gaung kiprahnya tak kalah santer dari koki Ibu Kota.”

Charles Toto, sang perawat kuliner Papua, ingin masakan tanah kelahirannya dikenal dunia. Pada tahun 2006, ia mendirikan Papua Jungle Chef Community (PJCC) sebagai wadah untuk mengulik resep tradisional Papua. Tak hanya komunitas, Papoea by Nature adalah restoran kuliner Papua yang ia bangun di Jakarta Selatan, Ibu Kota Indonesia. Pada tahun 2018, ia berhasil memperkenalkan cita rasa Papua melalui ajang Festival Slow Cooking Terramadre di Torino, Italia.

Dari Papua, untuk Dunia. Melalui Kiprahnya, Charles Toto pantas menyandang status sebagai perawat kuliner Papua. Ia berhasil membawa khazanah kuliner tradisional Papua mendunia. Selama bertahun-tahun, pria yang akrab disapa Chato ini bergumul dengan gastronomi hasil hutan dan laut Tanah Cenderawasih. Membawa misi yang unik, geliatnya di dunia kuliner menjadi sebuah sumbangsih bagi tanah kelahirannya. Merawat masakan tanah kelahirannya, Ia berharap masakan tradisional Papua tak punah ditelan masa serta mampu mendunia.

“Saya punya keinginan, warga Papua tidak hanya dikenal dengan rambut keriting dan kulit hitam, tapi Papua juga bisa dikenal karena makanan kuliner khasnya. Dan orang luas tahu itu,” jelas pria berumur 42 tahun itu, melansir dari tempo.co (11/12), 2018.

Baca Juga: Makna Kesepian Boven Digoel, Kamp Pengasingan Zaman Kolonial Papua

Menggelandang ke Hutan Demi Kuliner Menawan

Tahun 1997 ia memulai kariernya sebagai koki hotel. Kini, ia menyandang status The Jungle Chef melalui laganya menggelandang di hutan Papua. Chato kerap keluar masuk hutan belantara dan pedalaman Papua untuk mengkaji kebudayaan kuliner masyarakat. Hingga kini, Chato masih melakukan eksplorasi ke dalam kantong masyarakat Papua. Ia mengaku, hampir 70 persen wilayah Papua sudah ia jelajahi.

“Saya merasa lebih bahagia tinggal di Papua. Saya bisa berkeliling menjelajahi hutan di sana untuk tanya bahan lokal yang mereka gunakan, bagaimana mereka memasaknya dan mempraktikannya langsung bersama mereka di tengah hutan,” tutur Chato.

Garam hitam Lembah Baliem adalah salah satu bahan khas Papua yang ia temukan dalam ekspedisinya. Dalam salah satu acara demo memasak di Jakarta, Chato memperkenalkan garam yang berasal dari pelepah pisang itu. Menurut penuturannya, masyarakat Lembah Baliem menggunakan pelepah pisang yang direndam dengan air asin dari puncak Gunung Jayawijaya. Setelah direndam, pelepah pisang dibakar dan abunya diikat dengan pelepah pisang untuk dikeringkan. Berdasarkan kurasi dari juru masak Paris, Perancis, garam hitam terbukti baik untuk kesehatan.

Perjalanannya kulinernya tak hanya mengungkap masakan asli Papua, namun juga budaya. Menurut Chato, cita rasa yang sederhana dari teknik yang sederhana pula merupakan tanda kreativitas serta kesederhanaan orang Papua. Namun, kesederhanaan itu kian tergeser oleh menu makanan modern. Makanan cepat saji yang dianggap ‘gaul’ di kalangan anak muda menjadi tabir bagi masakan tradisional. Itu tidak menghentikannya untuk terus berkarya.

Melalui PGCC, ia mengadakan acara edukasi untuk meracik menu modern dengan cita rasa lokal. Sejumlah menu seperti es krim ubi atau pizza keladi solusi kala modernisasi menerjang.

Dari hutan Papua, ia persembahkan untuk dunia. Mick Jagger dan Melinda Gates menjadi saksi akan risalahnya. Baginya, hidangan Papua tak sekadar soal rasa, namun juga kesederhanaan manusianya. Tak hanya cita rasa, namun juga khasiatnya. Itu yang ingin ia bagi pada dunia.

“Makanan Papua itu sehat, organik. Buktinya kakek saya bisa berumur hingga 105 tahun sebelum meninggal tahun 2017,” pungkas Chato, melansir dari detik.com (25/02), 2018.