Child Free Itu Pilihan, Tanggung Jawab Terhadap Anak Itu Kewajiban
Ilustrasi seorang ibu bermain dengan anaknya (foto : adobe stock)

Child Free Itu Pilihan, Tanggung Jawab Terhadap Anak Itu Kewajiban – Seorang influencer di Twitter membuat sebuah utasan mengenai pilihannya untuk tidak mempunyai anak, karena alasan biaya. Mereka yang disebut dengan kaum child-free ini adalah pasangan-pasangan muda yang memilih untuk tidak mempunyai keturunan karena alasan-alasan tertentu.

Dalam hal influencer ini, memilih untuk menjadi child-free karena menurutnya, lebih baik biaya membesarkan seorang anak, dipergunakan untuk leisure mereka sendiri. Ia pun menjabarkan biaya minimum yang harus dikeluarkan, dari dalam kandungan hingga seorang anak lulus kuliah, menurut standarnya sendiri. Tidak tanggung-tanggung, biaya yang diprediksi olehnya adalah sebesar Rp3 miliar rupiah.

Tidak salah memang, jika pasangan memilih untuk tidak mempunyai keturunan. Itu merupakan pilihan masing-masing, dengan segala pertimbangannya. Terlepas dari segala kontroversi maupun nilai yang dipertentangkan dengan pilihan ini, banyak yang juga setuju atas pilihan tersebut.

Tanggung Jawab Terhadap Anak Diatur Undang-Undang

Memilih untuk memiliki keturunan bagi seorang pasangan, memang datang dengan tanggung jawab yang besar. Ini bukan hanya berbicara mengenai moral ataupun nurani saja. Namun konsekuensi tanggung jawab terhadap keturunan diatur di dalam peraturan perundangan kita.

Seorang anak, baik itu laki-laki maupun perempuan, menjadi tanggung jawab orang tuanya hingga ia dewasa. Batasan dewasa, adalah ketika seorang anak berusia 18 tahun atau ketika ia menikah sebelum usia 18 tahun. Tanggung jawab ini dimulai ketika anak itu berada di dalam kandungan ibunya.

Baca Juga : Resep Ayam Rebus, Tinggal Celup Diet Lancar Rasa Tak Hambar

Dalam Pasal 26 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (UU Perlindungan Anak), Pasal 26 ayat (1)

  1. Mengasuh, memelihara, mendidik, dan melindungi anak;
  2. Menumbuhkembangkan anak sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minatnya;
  3. Mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak; serta
  4. Memberikan pendidikan karakter dan penanaman nilai budi pekerti pada anak.

Tidak Menafkahi Adalah Menelantarkan

Selain itu, di dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT), seorang ayah, diwajibkan untuk menafkahi anaknya hingga berusia dewasa.

Hal ini diatur di dalam Pasal 9 ayat (1), yang berbunyi sebagai berikut:

“setiap orang dilarang menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya, padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau perjanjian ia wajib memberikan kehidupan, perawatan, atau pemeliharaan kepada orang tersebut”

Sanksi bagi seorang ayah yang dengan sengaja menelantarkan anaknya adalah maksimal tiga tahun penjara, atau denda paling banyak Rp15 juta.

Memiliki anak, bukanlah seperti memiliki peliharaan yang dilihat saat lucu-lucunya saja. Memiliki anak merupakan sebuah pilihan dengan konsekuensi tanggung jawab yang begitu besar. Bijaklah saat membuat sebuah pilihan, karena anak merupakan anugerah yang hadir untuk keseluruhan hidup.